"Tiga puluh delapan orang," kata Sartono singkat di Polres Kepulauan Seribu, Jl Baru Cilincing, Jakarta Utara, Senin (10/1/2011) saat ditanya berapa banyak anak yang ia sodomi.
Sartono mengaku, setelah dirinya menikah, baru sekali ini ia berbuat cabul. yakni dengan HRL. SedangkanΒ sebelum menikah, Sartono sudah sering menyodomi anak-anak jalanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sartono juga menjelaskan bahwa perbuatannya menjual HRL ke teman-temannya seharga Rp 25 ribu-50 ribu hanya sekedar buat makan. Sartono menjual HRL di stasiun-stasiun kereta api. "Ya dijual Rp 25-50 ribu untuk makan," tandasnya.
Sartono yang mengenakan baju tahanan berwarna orange ini ikut ditampilkan dalam jumpa pers di Polres Kepulauan Seribu. Sartono yang berkulit hitam dengan tinggi kurang lebih 150 cm ini hanya diam saja saat ditanya wartawan mengenai rasanya punya istri dan anak tapi masih tetap menyodomi anak-anak.
Sebelumnya Sartono bertemu HRL pada November 2010. Warga Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat ini membujuk HRL untuk ikut bersamanya ke Jakarta. Dengan iming-iming HP, HRL pun akhirnya ikut.
HRL pergi tanpa pamit kepada orangtuanya di Kelurahan Pulau Harapan, RT 4 RW I, Kepulauan Seribu. Pada 25 November, ayah HRL, Mohammad Jamil, kemudian melapor ke Polres Kepulauan Seribu atas penculikan yang menimpa anaknya.
Polisi kemudian melakukan penyidikan dan berhasil menciduk Sartono Jumat (7/1/2011) di Stasiun Kota, Jakarta Pusat. Tersangka dibekuk ketika naik ke atas gerbong kereta api.
Pelaku kini meringkuk di Mapolres Kepulauan Seribu. Atas perbuatannya, Sartono dijerat dengan Pasal 328 KUHP dan Pasal 83 UU No 23/2002 Tentang Perlindungan Anak.
(gus/asy)











































