"Sampai hari ini, David masih kuliah seperti biasa. UI tidak akan memberi tekanan apapun pada David terkait kesulitan membayar uang kuliah itu," kata Humas UI Devie Rahmawati saat berbincang dengan detikcom, Jumat (7/1/2011).
Devie mengatakan, sebenarnya tidak hanya David yang mengalami kesulitan untuk membayar kuliah. Dan Devie menegaskan, UI bukanlah universitas yang tidak peduli dengan mahasiswa-mahasiswa yang kurang mampu seperti David.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk kasus David, Devie mengatakan, pihak UI telah mengirimkan surat kepada Pemprov Bengkulu untuk menanyakan komitmen mereka terhadap beasiswa David. UI siap untuk menempuh jalur apa saja untuk mendapatkan hak David.
"Apa saja kita akan tempuh, termasuk jika harus ke jalur hukum," kata Devie.
Devie mengatakan, David adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UI yang masuk melalui jalur Kerja Sama Daerah dan Industri (KSDI). Biaya per semester untuk mahasiswa yang masuk melalui jalur ini memang lebih tinggi dibanding mahasiswa reguler.
"Uang semester mahasiswa KSDI memang masuk yang premium yakni Rp 10 juta. Mahasiswa biasa hanya Rp 5 juta. Tapi mahasiswa yang masuk melalui KSDI itu mendapat beasiswa dari pemprov tempatnya berasal. Tapi untuk kasus David ini, ternyata pemprovnya ingkar. Karena itu kita siap bantu David untuk mendapatkan haknya," kata Devie.
Persoalan ini sebenarnya tidak hanya menimpa David saja. Ada sekitar enam mahasiswa UI lain yang sama-sama berasal dari Bengkulu juga bernasib sama. Beasiswa dari Pemprov Bengkulu tak kunjung turun.
Namun beruntung, mahasiswa lain itu memiliki orang tua yang lebih mampu dari orang tua David sehingga bisa mengirimkan uang untuk biaya sehari-hari. Saat ini, David yang kini hidup sendiri di Jakarta, harus bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sehari-hari. Beruntung, David kerap mendapat pekerjaan dan bantuan dari teman-temannya sehingga dia tetap bisa makan setiap hari.
David berharap, UI bisa membantunya dan juga teman-temannya agar Pemprov Bengkulu mau menggelontorkan beasiswa yang telah disepakati bersama. David juga berharap, uang pangkal Rp 27 juta dan uang semester III sebesar Rp 10 juta, segera dibayarkan.
"Uang pangkal Rp 27 juta itu hasil jual kebun orang tua saya dan uang pinjaman. Saya harap, semua bisa dibayar sehingga kami bisa membayar utang," kata David. Orang tuanya yang petani pun terpaksa beralih profesi menjadi cleaning service.
(ken/fay)











































