"Biasanya mereka yang nekat mengakhiri hidup bukan akibat gangguan jiwa atau karena alasan ekonomi. Bunuh diri dapat dipicu karena seseorang mengalami depresi atau menderita psikotik," tegas Agung dalam siaran pers, Jumat (7/1/2011).
Dia menjelaskan, upaya-upaya pencegahan perlu dilakukan karena para ahli menyatakan, sebanyak 80-90 persen kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah.Β Hanya 20 persen yang tidak dapat dicegah karena ada gangguan kejiwaan akut dan kuatnya keinginan bunuh diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, lanjut Agung, sebagai contoh, seorang anak mantan Presiden Iran meninggal dunia akibat bunuh diri pada pekan ini. Jelas itu bukan semata disebabkan tekanan ekonomi.
"Tekanan kemiskinan dan kesedihan atau kemalangan berkepanjangan pun berpotensi membuka peluang bunuh diri. Namun, hal itu bisa diatasi dengan dukungan keluarga dan kawan-kawan dekat," imbuhnya.
Untuk itu disarankan agar semua pihak senantiasa memperbaiki hubungan keluarga dan bersikap terbuka, mesra satu sama lain dalam kehidupan sosial. Dia menyarankan agar lebih banyak berbaur dan mencari dukungan psikis dalam setiap pergaulan.
"Sikap solidaritas yang tinggi dapat pula mencegah tindakan bunuh diri," tuturnya.
Untuk itu, bagi anggota keluarga yang menyadari orangtua, anak, atau saudaranya memiliki kecenderungan depresi atau psikotik segera melakukan pengobatan.
"Lebih baik jika sejak dini yang bersangkutan dibawa konseling ke psikiater," tutupnya.
Sejak pekan lalu peristiwa bunuh diri marak di Jakarta. Beberapa terjadi di mal, antara lain di Gajah Mada Plaza dan di Blok MΒ Square. Para pelaku bunuh diri meloncat dari lantai paling atas untuk mengakhiri hidupnya.
(ndr/nrl)











































