Naik Turun Hasil Survei SBY Dinilai Lumrah

Naik Turun Hasil Survei SBY Dinilai Lumrah

- detikNews
Jumat, 07 Jan 2011 14:27 WIB
Jakarta - Naik turunnya hasil sebuah survei penilaian publik terhadap sebuah topik atau tokoh tertentu merupakan suatu hal yang wajar dan lumrah. Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Heru Lelono, hasil survei penilain publik bisa dijadikan alat untuk menginteropkesi diri, bila survei dilakukan lembaga survei secara obyektif dan kredibel.

"Apalagi apabila respondennya juga selalu berubah, atau bukan orang yang sama. Hal tersebut juga sangat bergantung dengan kondisi umum, atau mungkin bisa dikatakan 'musim' saat survei dilakukan," kata Heru Lelono dalam rilis yang diterima detikcom di Jakarta, Jum'at (7/1/2011). Hal itu dikatakannya menanggapi hasil survei kinerja terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Menurut Heru, latar belakang responden menilai Presiden SBY sebagai pribadi, pasti dipengaruhi oleh keadaan umum seluruh negeri ini. "Oleh karena itu, penilaian terhadap sosok pribadi Presiden hampir pasti diwarnai oleh keadaan yang tampak secara umum, bahkan mungkin bukan karena sikap Presiden," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walau begitu Heru mengakui, apapun sebuah penilaian publik hasil sebuah survei tetap bisa digunakan untuk introspeksi asal lembaga survei tersebut melakukannya dengan cara yang profesional sehingga hasilnya obyektif dan kredibel. Contohnya, fluktuatifnya sebuah penilaian adalah angka-angka yang tampak terhadap Presiden SBY. Saat terpilih sekitar 60 persen, dikatakan pernah 85 persen, kemudian di data LSI pada bulan Oktober 2010 angkanya 62 persen. Survey terakhir yang dirilis LSI dikatakan angkanya 63 persen.

"Saya bisa mengatakan sangat wajar. Kalau ada yang mengatakan turun, saya juga bisa mengatakan naik dibandingkan bulan Oktober 2010 sesuai survei LSI sendiri. Namun sejatinya, yang terpenting apapun hasil sebuah survei, sekali lagi kalau hasilnya kredibel, selalu dapat digunakan untuk alat instropeksi. Bahkan kalau mau jujur, bila angka kepuasan terhadap SBY hari ini masih stabil seperti saat beliau terpilih, hal ini harusnya menjadi cambuk bagi para kader calon pemimpin di tahun 2014 yang akan datang," ujarnya lagi.

Heru menambahkan, dengan kondisi yang tetap stabil tersebut, bisa dipastikan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Hanya saja bila berandai-andai SBY masih bisa menjadi Capres di tahun 2014, maka hanya bisa dikalahkan oleh calon yang hari ini memiliki angka lebih dari 63 persen. "Faktanya belum ada. Karena itu di sisi lain saya menyambut baik hasil survei ini. Sekali lagi dengan harapan dapat menjadi pemicu lahirnya calon pemimpin negeri tahun 2014 yang lebih baik dari SBY," pungkasnya.
(nal/vit)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads