"Kadang ada yang jual lukisan dengan harga jauh lebih murah dari seharusnya, alasannya karena butuh uang, tapi ini indikasi warning. Kalau bukan curian ya bisa jadi itu palsu. Patut waspada," kata Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus Andre Sukmana, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (6/1/2012).
Andre menjelaskan, lukisan karya tua atau kuno yang merupakan karya seorang master jumlahnya terbatas dan biasanya berada di tangan kalangan tertentu, seperti kolektor kelas berat, keluarga atau museum. Karena itu, sebelum membeli lukisan, ada baiknya mengetahui latar belakang lukisan tersebut untuk mengetahui kredibilitasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lukisan yang telah lama hilang, suatu saat bisa muncul kembali. Biasanya lukisan itu muncul dalam acara lelang. Andre mengingatkan agar pemilik lukisan asli karya maestro mendokumentasikannya dengan apik, untuk menghindari kehilangan lukisan tanpa diketahui.
"Untuk menghindari lukisan palsu, ada tren juga membeli lukisan karya baru. Ada yang menghindari pembelian karya master atau tua. Soalnya kalau baru bisa langsung menghubungi seniman. Tapi tren sekarang yang tua diminati lagi," sambung Andre.
Bagi yang kehilangan lukisan, Andre menyarankan, selain melapor ke polisi juga menghubungi balai lelang. Kepada balai lelang tersebut diberi imbauan agar segera melapor jika ada lukisan yang dilaporkan hilang. Selain itu, perlu juga memeriksa katalog dari balai lelang.
Indikasi suatu lukisan palsu, bisa dilihat dari pigmen, seperti cat. Goresan cat baru dengan cat lama tentu berbeda. Lukisan asli yang biasanya diduplikasi, umumnya merupakan karya maestro yang dibuat bertahun-tahun lalu, sehingga catnya sudah lama.
Selain itu, kanvas lama dan baru tentu juga berbeda lantaran mengalami proses oksidasi. Selain itu, setiap pelukis biasanya memiliki gaya sendiri-sendiri. Misalnya saja Basoeki Abdullah, adalah pelukis bergaya realis dan naturalis yang punya ciri sendiri saat menggoreskan kuasnya ataupun mencampur catnya.
Lukisan lama, imbuh Andre, memiliki daya lekat cat ke kanvas yang kuat. Selain itu, bila lukisan itu sangat tua akan terlihat 'retakan seribu' di cat depan yang terlihat seperti sarang laba-laba. Sementara itu, di bagian belakang lukisan akan terlihat jejak retak yang menguning dengan pola melingkar atau seperti ranting pohon.
Lukisan karya maestro Basoeki Abdullah yang berada di rumah proklamator Bung Hatta
di Jalan Diponegoro 57, Jakarta, asli diganti dengan yang palsu. Keluarga Bung
Hatta pun rugi sekitar Rp 6 miliar. Kini polisi masih mengejar pelaku. Kapolsek Menteng AKBP Djuwito Purnomo menduga lukisan tersebut sudah berada di luar Jakarta. Polisi telah mencari ke tempat penjualan barang antik, namun belum juga menemukan keberadaan lukisan bergambar penggembala dan kerbau tersebut.
(vit/ken)











































