Pemalsu Kian Teliti, Lukisan Baru pun Tampak Kuno

Lukisan Basoeki Abdullah Dicuri

Pemalsu Kian Teliti, Lukisan Baru pun Tampak Kuno

- detikNews
Kamis, 06 Jan 2011 15:43 WIB
Pemalsu Kian Teliti, Lukisan Baru pun Tampak Kuno
Jakarta - Lukisan karya asli Basoeki Abdullah senilai Rp 6 miliar di rumah proklamator Bung Hatta raib. Sebagai gantinya, lukisan palsu terpajang di rumah itu. Kini, para pemalsu lukisan memang lebih teliti, lukisan baru pun tampak lama sehingga nyaris sama persis dengan aslinya yang dibuat bertahun silam.

Modus mengganti lukisan palsu untuk mencuri yang asli memang bukan kali ini saja terjadi. Umumnya peristiwa semacam itu diotaki oleh orang yang benar-benar mengerti lukisan. Sebab orang awam sulit membedakan lukisan asli dan palsu.

"Saya pernah mendengar, ada yang mencampur cat dengan serbuk tertentu. Misalnya saja mengerok cat dari kayu atau dari lempengan besi, kemudian dipindah ke kanvas. Sehingga tercipta efek seperti cat lukisan lama," terang Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus Andre Sukmana, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (6/1/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lukisan lama, imbuh Andre, memiliki daya lekat cat ke kanvas yang kuat. Selain itu, bila lukisan itu sangat tua akan terlihat 'retakan seribu' di cat depan yang terlihat seperti sarang laba-laba. Sementara itu, di bagian belakang lukisan akan terlihat jejak retak yang menguning dengan pola melingkar atau seperti ranting pohon.

"Ada juga yang mencoba memalsukan retakan. Dibuat dengan meremas-remas seperti meremas kertas. Tentu saja karena retakannya buatan, tidak sama dengan 'retakan seribu'. Tapi bagi yang tidak familiar (awam) mungkin sepintas tidak tahu," lanjut dia.

Modus mengganti lukisan asli dengan palsu untuk tujuan mencuri biasanya menjadi pilihan agar aksi pencuri tidak segera diketahui. Paling tidak untuk kurun waktu tertentu, orang sekitar tidak curiga dengan hilangnya lukisan.

"Dibuat selintas mirip sehingga yang dicuri tidak merasa kehilangan. Kalau orangnya (pelaku dan komplotannya) profesional, maka dia akan mengincar terus. Akan dicari tahu ukurannya, lalu kalau diambil dengan piguranya akan dicari tahu jenis piguranya," sambung Andre.

Dia lantas mengingatkan kasus pencurian lukisan pada tahun 1990-an di Musium Nasional. Menurutnya, setelah ditelusuri terungkap ada keterlibatan orang dalam yakni bagian sekuriti dan restorasi.

"Di pengadilan terungkap mereka mendapat iming-iming dari kolektor besar di Singapura. Mungkin karena gaji kecil, mereka lalu terbius dan mengupayakan mengganti lukisan untuk mencuri yang asli," terang Andre.

Ke mana perginya lukisan curian itu? "Bisa langsung dijual ke kolektor atau melalui balai lelang. Balai lelang menerima lukisan dari tangan terakhir tanpa tahu itu hasil curian. Lalu tiba-tiba lukisan curian muncul di katalog lelang, itu bisa saja," ucap Andre.

Andre tidak tahu pasti adakah sindikat pencuri lukisan. Namun di beberapa kasus yang dia ikuti, ada kolektor lukisan yang jahat yang memanfaatkan orang dalam di rumah atau museum untuk beraksi. Pencurian dan pemalsuan lukisan karya maestro terjadi pula di luar negeri.

Lukisan karya maestro Basuki Abdullah yang berada di rumah proklamator Bung Hatta
di Jalan Diponegoro 57, Jakarta, yang asli diganti dengan yang palsu. Keluarga Bung
Hatta pun rugi sekitar Rp 6 miliar. Kini polisi masih mengejar pelaku. Kapolsek Menteng AKBP Djuwito Purnomo menduga lukisan tersebut sudah berada di luar Jakarta. Polisi telah mencari ke tempat penjualan barang antik, namun belum juga menemukan keberadaan lukisan bergambar penggembala dan kerbau tersebut.

(vit/nrl)


Berita Terkait