Sebenarnya hal itu bisa dicegah ketika keluarga atau teman memberikan ruang untuk curhat.
"Banyak pelaku yang mengurungkan niat mereka untuk bunuh diri karena sesaat sebelumnya mereka didampingi oleh orang lain yang sudi mendengarkan keluh kesah mereka, " kata psikolog forensik Universitas Bina Nusantara Jakarta, Reza Indragiri Amriel kepada detikcom, Rabu, (5/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sampai tahun 2008, Indonesia belum memiliki data kuantitatif perihal insiden bunuh diri. Kementrian Kesehatan juga tidak punya data akurat tentang bunuh diri. Namun, sebagai perbandingan, setiap tahunnya ada sekitar satu juta orang yang tewas akibat bunuh diri.
Ini setara dengan angka kematian global sebanyak 16 jiwa per setiap 100 ribu orang, atau 1 kematian setiap 40 detik.
"Artinya, jumlah kasus bunuh diri yang kita saksikan adalah cuilan kecil dari jumlah kejadian bunuh diri yang sebenarnya," beber Reza.
Yang terpenting untuk mencegah ini semua adalah kematangan emosial individu harus terus di pupuk oleh keluarga. "Kematangan emosional sebagai kunci mengatasi problem hidup. Selain itu juga di sosialisasikan konsekuensi negatif setelah individu melakukan aksi nekadnya," tutup Reza.
(asp/ndr)











































