Zaini meninggal pada Kamis (6/1/2011) di tempat pengungsian di Lapangan Jumoyo, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang. Dari informasi yang dihimpun detikcom, 4 hari sebelum meninggal, Zaini mengalami muntah-muntah.
Dia mengalami komplikasi gula darah, hipertensi dan tipes. Puncaknya, Zaini mengalami kejang-kejang setelah menyuapi cucu satu-satunya Althaf (7), anak dari putri tunggalnya Sarah (32), sebelum cucunya berangkat sekolah di dekat pengungsian dan Zaini pun anfal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya di dalam shelter box (pengungsian) melihat setelah bapak menyuapi anak saya sebelum berangkat sekolah, langsung muntah-muntah dan kejang-kejang. Lalu saya menghubungi Ibu Endah tetangga saya yang kebetulan bekerja sebagai dokter penyakit dalam di RS Harapan Kita Jakarta. Dia lagi di rumah," tegas Sarah.
Setelah Endah Retno Wulan datang di pengungsian, Sarah langsung diminta melarikan ayahnya yang sudah stroke menahun itu ke RSUD Muntilan, Magelang. Zaini datang di Ruang UGD RSUD Muntilan, Magelang sudah dalam kondisi anfal, otaknya sudah tidak menunjukan ciri-ciri adanya kehidupan dan pupil mata sudah dalam kondisi membesar dan terbelalak.
Bahkan saat tim dokter melakukan penanganan korban Zaini dengan memasang infus juga tidak bisa mengalir ke pembuluh daranya. Diduga korban meninggal usai muntah-muntah dan kejang saat di pengungsian sebelum dibawa ke rumah sakit.
"Sampai di sini (rumah sakit-red), tim medis langsung melakukan pertolongan dengan alat pemacu jantung (RJP), namun ayah saya sudah tidak bisa tertolong lagi," ujar Sarah dengan isak tangis sambil mengendong anaknya Althaf yang juga meneteskan air mata.
Di pengungsian, shelter box nomor 30 yang dihuni Zaini tepat berada di depan MCK pengungsian, yang digunakan sekitar 900 pengungsi di Lapangan Desa Jumoyo, Salam, Magelang. Dokter piket UGD RSUD Muntilan, Magelang Wawan Suci N menyatakan Zaini mempunyai riwayat penyakit komplikasi.
"Tadi datang kesini kecurigaannya karena riwayat korban sudah mempunyai penyakit hipertensi yang tinggi, gula darah tinggi kemudian ditambah dengan pola makan di pengungsian tidak terkontrol sehingga begitu datang dalam kondisi anfal tidak bisa lagi kita tolong," tegas Wawan.
Jenazah korban saat ini sudah dibawa ke rumah duka di Dusun Kemburan, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang yang dalam kondisi masih tenggelam oleh material banjir lahar dingin. Jenazah rencananya siang ini langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Kemburan, Desa Jumoyo, Salam, Magelang.
(fay/fay)











































