Akibat banjir lahar dingin itu, aliran Kali Putih membelah. Dusun ini pun terisolir karena terjebak di tengah-tengah.
Di bagian barat Dusun Candi, material Merapi sudah menyelimuti alur Kali Putih. Sedangkan di bagian timurnya, terdapat aliran sungai baru setelah Kali Putih sudah tidak bisa menampung material lahar dingin Merapi lagi.
Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Sirahan, M Rokim, kepada detikcom, Rabu (5/1/2011) menyatakan, ada 5 dusun dari 16 dusun yang terancam banjir lahar dingin Merapi. Dusun-dusun itu berada tepat di bantaran Kali Putih.
M Rokim menyatakan kelima dusun itu adalah Dusun Candi, Dusun Salakan, Dusun Glagah, Dusun Jetis dan Dusun Sirahan. Warga di 3 dusun yakni Candi, Salakan dan Sirahan, kini sudah diungsikan sebab rumah mereka sudah terendam material banjir lahar dingin Merapi setinggi rata-rata 1-2 meter.
"Saat ini mereka mengungsi di rumah tetangga atau saudaranya yang lokasinya lebih aman dan jauh dari alur bibir sungai," tegas M Rokhim.
Khusus warga Dusun Candi, semuanya mengungsi ke SMP Negeri 2 Salam. Dusun itu terisolir akibat terkepung dua Kali Putih yang bercabang menjadi dua akibat terjangan lahar dingin Merapi. Dari data sementara, kata Rokim, ada 15 rumah dan 3 tempat usaha yang rusak akibat terendam material Merapi.
Sementara itu Ganis, tokoh pemuda Dusun Salakan, kepada detikcom secara terpisah menyatakan, di Dusun Sirahan terdapat 6 rumah terendam antara lain milik Darmo, Kismorejo, Sutilah, Tarmudi dan Wartorejo. Sedang di Dusun Salakan, ada 5 rumah masing-masing milik Budi Sunaryo, S Marsono, Siswadi, Bambang dan Sukarjo.
"Di dusun ini juga terdapat tiga tempat usaha yang juga terendam, yakni bengkel motor milik Bagiyo, warung makan milik Indrat dan toko kelontong milik Subadri," kata Ganis.
Selain merendam rumah, material lahar dingin Merapi juga menyebabkan air sumur di wilayah itu keruh karena tertimbun material lahar dingin. Untuk mencukupi air bersih saat ini, warga terpaksa mengandalkan bantuan dari warga.
Sebagai antisipasi ke depan, pemerintah desa tengah mengusahakan droping air dari Pemerintah Kabupaten Magelang dan PMI. Selain kesulitan air bersih, ratusan penduduk yang mengungsi di SMP Negeri 2 Salam belum mendapatkan bantuan logistik dan kebutuhan lainya.Β
"Selain air bersih, kami juga membutuhkan bantuan logistik pengungsi yang sampai saat ini belum diberikan pemerintah," ujar Ganis.
Selain itu Ganis menyatakan butuh bantuan beberapa radio komunikasi (HT), untuk menginformasikan jika sewaktu-waktu terjadi banjir lahar. "Juga alat penerangan yang akan kami tempatkan di beberapa titik sungai. Lampu ini penting untuk melihat datangnya banjir lahar, karena selalu terjadi pada sore dan malam hari," ujar Ganis.
Dr Surono dari Badan Geologi EDSM pada Selasa kemarin menyatakan, material Merapi yang masih berserakan di puncak Merapi diperkirakan berada di kisaran 150 juta kubik. Material ini bisa turun ke bawah bila hujan deras datang. Selain pasir, material itu juga berupa batu berukuran raksasa yang disebut warga sebagai "batu gajah".
(fay/nrl)











































