Hal ini dikisahkan oleh Marcos kepada detikcom, Senin (3/1/2010). Dia berbagi masalah yang menimpa dirinya dan teman-teman lain yang bergabung di komunitas Foursquare Indonesia, id-foursquare.
"Kami merasa tertipu oleh pelaku yang mengumpulkan uang teman-teman Foursquare yang tadinya untuk bikin kaus, tapi kemudian dibawa lari," kata Marcos memulai kisahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia sih ngakunya gay, makanya dia dekat sama cewek, agak kemayu juga. Dia cari simpati dengan cerita keluarganya yang broken home," kata Marcos.
Pada sekitar Oktober 2010, komunitas id-foursquare berencana membuat kaos. DA pun bersikeras menjadi semacam bendahara untuk pengumpulan dana Rp 75.000 per kaos ini.
"Bahkan dia bilang sebagian uang yang dikumpulkan disumbangkan ke Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI)," ujar Marcos.
Dengan cerita menjanjikan, uang pun sempat terkumpul di tangan DA sekitar Rp 5 juta. Namun kemudian DA mengaku sakit dan harus diopname.
"Saat itu dia pun minta tolong macam-macam. Mulai dari minta pulsa, minta dicarikan tempat kos, sampai minta ditalangi uang asuransi," imbuhnya.
Kemudian, tibalah saatnya menyetor uang ke vendor kaos, sekitar akhir Oktober 2010. DA seolah menghilang. Ponselnya tidak bisa dihubungi, blackberry messenger tidak dijawab, akun twitternya pun tidak aktif.
"Kita malah di-delete dari kontak-kontak dia. Pas kita cek ke YKAKI, tidak pernah ada sumbangan atas nama dia atau id-foursquare," keluh Marcos.
Sebagian mereka sudah merelakan uangnya lenyap. Namun dari jejaring sosial juga mereka dapat kabar DA masih eksis membuat perkawanan baru. Marcos dan teman-teman pun meminta para pegiat jejaring sosial waspada.
"Yang kebangetan itu dia masih berani muncul, misalnya di Twitter walaupun dengan nama berbeda. Tapi pas kita mention dia, dia kaget begitu, terus hilang lagi," tutupnya.
Detikcom pun mencoba menghubungi dua nomor IM3 milik DA. Namun kedua nomornya tidak aktif.
(fay/nrl)











































