Setgab Makin Panas, Pemberantasan Korupsi Melemah di 2011

Setgab Makin Panas, Pemberantasan Korupsi Melemah di 2011

- detikNews
Minggu, 02 Jan 2011 11:52 WIB
Setgab Makin Panas, Pemberantasan Korupsi Melemah di 2011
Jakarta - Sepanjang tahun 2011, suasana politik nasional Indonesia diperkirakan akan semakin memanas. Suasana ini berbanding terbalik dengan agenda pemberantasan korupsi yang diprediksi semakin melemah.

"Tahun 2011 ini, Sekretariat Gabungan (Setgab) akan memanas," ujar pengamat politik Ray Rangkuti dalam surat elektroniknya yang diterima detikcom, Minggu (2/1/2011).

Ray mengatakan, memang memanasnya keberadaan Setgab belum berujung pada perpecahan partai-partai yang tergabung di dalamnya. Hanya saja kekisruhan antar partai koalisi yang tergabung di dalamnya akan mewarnai situasi politik sepanjang 2011.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gesekannya makin menguat karena tiap parpol mulai merasa tidak mendapat porsi yang tepat dalam tubuh Setgab. Karena berdirinya Setgab ini bukan untuk membentuk tujuan politik yang sama, tapi mereka hanya dipertemukan oleh situasi dan situasi itu pulalah sekarang yang menghendaki adanya pembubaran itu," jelas Ray.

Sedangkan untuk agenda pemberantasan korupsi sendiri, menurut Ray belum banyak perkembangan yang signifikan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga penegak hukum justru terjebak pada pembenahan internalnya sendiri.

"Pemberantasan korupsi akan meredup. KPK sibuk urusan dengan dirinya," imbuhnya Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Indonesia ini.

Kasus-kasus strategis yang selama ini ditangani KPK justru masih dalam posisi stagnan. "Jikapun lembaga ini bergerak tidak akan menyentuh isu-isu strategis, seperti siapa pemberi suap kepada anggota DPR dalam kasus pemilihan Gubernur BI, mengungkap kasus Bank Century, dan termasuk soal IT KPU," bebernya.

Selain KPK, dua lembaga penegak hukum yang memiliki pemimpin baru, juga dalam posisi yang sama dengan KPK. Reformasi birokrasi yang dicanangkan SBY justru masih jauh panggang dari api.

"Tak ada perubahan besar di bawah dua pemimpin baru di lembaga penegak hukum, Kejaksaan di bawah Basrief Arief dan Kepolisian di bawah Jendral Timur Pradopo, tak akan melakukan gebrakan besar. Rekening gendut Polri misalnya akan melempem dan secara perlahan kasusnya akan menghilang," kata Ray.

"Bahkan suap tetap merajalela dan itu disebabkan oleh pemerintah yang hanya sibuk dengan urusan isu politik, sementara pada saat yang sama dia menggunakan birokrasi untuk memperkuat posisi politiknya," sesalnya.

Namun begitu, Ray yakin masih ada sebagian elite politik yang bisa diajak komproni untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Semua bergantung pada keinginan dan harapan untuk membangun bangsa.

"Namun begitu kita masih bisa berharap bahwa akan ada langkah-langkah untuk Indonesia yang lebih baik," tandasnya.

(lia/fay)


Berita Terkait