"Mudah-mudahan cerah nanti malam, kalau hujan siapa yang mau beli mercon?" kata lajang asal Cirebon ini saat berbincang dengan detikcom, di Stasiun Jatinegara, Jl Raya Bekasi Timur, Jakarta, Jumat (31/12/2010) sore.
Pengo, merupakan pedagang mercon musiman. Malam pergantian tahun dia manfaatkan untuk menjual rupa-rupa mercon import asal China. Di hari biasa, Pengo berjualan perabotan rumah tangga di Pasar Gembrong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada kotak-kotak yang bisa nyembur kembang api sampe 50 kali seharga Rp 350-500 ribu, ada bola-bola yang 5 kali nyembur harganya Rp 50 ribu, kalau paling murah kembang api batangan cuma Rp 5 ribu," terang Pengo seraya menambahkan mercon bola-bola yang banyak diminati pembeli.
Dia berjualan di lokasi yang tak jauh dari Stasiun Jatinegara sejak hari Minggu lalu. Namun, diakuinya suasana penjulan sepekan menjelang malam pergantian tahun sepi pembeli daripada tahun sebelumnya.
"Dulu bisa sampai Rp 3-4 juta sehari, sekarang paling gede Rp 300 ribu sehari. Mungkin orang fokus beli baju Timnas dulu," katanya.
Sepinya peminat mercon menjelang malam tahun baru juga dirasakan Susanto (22). Meski sepi ia berharap ramai pembeli di menit-menit terakhir perayaan.
"Mudah-mudahan nanti abis magrib sampai jam 23.00 WIB ramai," harap pedagang musiman ini.
Walaupun nanti harapan ramai pembeli tidak tercapai, dia tetap akan berdagang mercon di perayaan serupa tahun depan. "Mercon kan beda dengan mangga, dia bisa kita simpen sampe tahun depan, nanti kalau malam tahun baru lagi kita jual lagi," kata Sutanto.
Pantauan detikcom, sebanyak 30-an pedagang mercon berjajar di sepanjang Jl Raya Bekasi Timur, sekitar 100 meter dari pintu masuk Stasiun Jatinegara. Rupa-rupa mercon dijajakan di atas gerobak kayu. Pedagang sepatu dan sandal bekas yang biasa memadati kawasan tersebut tak nampak.
"Kita pinjam dulu tempatnya, nanti besok juga mereka jualan lagi," kata Dedi yang lapaknya bersebelahan dengan Sutanto.
(ahy/gun)










































