"Saya tidak mau terlibat soal polemik. Karena itu kewenangan anggota yang memiliki suara. Orang boleh saja tidak setuju, tapi kalau anggota memilih bagaimana?" kata Marzuki di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (31/12/2010).
Mengenai apa yang dicapai Timnas sepakbola Indonesia dalam Piala AFF 2010, Marzuki menilai hal itu sudah merupakan hasil maksimal. Timnas menjadi runner-up Piala AFF 2010, dikalahkan Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seharusnya, kata Marzuki, pembinaan sepakbola nasional oleh PSSI dilakukan dengan pembatasan pemain asing di liga nasional.
"Kita memberi kesempatan kepada pemain asing itu hingga lima orang, lima itu standarnya. Itu dua striker, satu tengah dan dua belakang. Padahal kompetisi ini dimaksudkan untuk memberi keahlian," terang dia.
Menurut Marzuki, bagaimana mungkin ingin mengharapkan Timnas berkualitas jika kesempatan pemain lokal di liga itu sedikit sekali.
"Kita boleh memberi kesempatan (pemain asing) itu tidak banyak-banyak, misalkan satu saja. Ini malah lima. Liga ini untuk kepentingan Indonesia. Ini dalam rangka pembinaan juga," ujar Marzuki yang tak ketinggalan menonton final Piala AFF ini.
"Manakala membentuk Tim Nasional kita ambil dari pemain liga. Kalau semua terlatih di kompetisi liga, kita punya modal yang banyak. Itu kekalahan kita, akibatnya baru kelihatan tajam setelah ada Gonzales, Irfan karena kita tidak terlatih untuk striker," paparnya.
Dia mengatakan, membentuk Timnas yang tangguh itu tidak bisa instan. "Orang kalau sudah terlatih dengan kompetisi yang ketat, dia memiliki kelas tersendiri. Kalau beda kelas, sudah bisa diprediksi kalah. Kita tidak menyiapkan Timnas yang terkonsep dengan baik," kritiknya.
(lrn/gun)











































