Farhat menuding adanya 'kesepakatan' khusus di antara komisioner KY lain yang lebih memilih Eman sebagai Ketua KY. Dia mencurigai adanya dukungan politis atas terpilihnya Eman dan Imam sebagai pasangan Ketua dan Wakil Ketua KY yang baru.
Hal ini, menurutnya, bisa dilihat dari cara komisioner KY lainnya yang mencari simpati dengan melakukan black campaign yang menjelek-jelekkan ayahnya sebagai Hakim Agung. Padahal menurut Farhat, jabatan Hakim Agung adalah jabatan mulia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farhat mensinyalir, sejak awal pada tahap penyaringan oleh panitia seleksi sebenarnya sudah mulai terbaca adanya pengelompokkan ini. Dari 7 orang komisioner yang lolos, hanya terdapat seorang Hakim Agung, yakni Abbas Said. Lainnya kebanyakan dari kalangan akademisi dan juga seorang politisi.
"Dari awal kelihatan sudah buat kelompok, jangan sampai Hakim Agung jadi Ketua KY," tudingnya.
Latar belakang akademis Eman Suparman yang merupakan Guru Besar Universitas Padjajaran (Unpad) dan Imam Anshory Saleh yang merupakan mantan anggota DPR dinilai tidak akan mampu menjadi pemimpin yang tepat bagi KY ke depan.
Menurut Farhat, mereka yang tak memiliki cukup pengalaman sebagai praktisi hukum akan sulit untuk memimpin KY.
"Saya pesimis dengan figur Imam Anshory dan Eman hanya figur yang tidak punya pengalaman. Eman hanya akademisi bukan praktisi. Saya meragukan figur Anshory hanya politis. Tidak membuat penegak hukum di Indonesia terkejut dan kaget, biasa saja. Bagaimana yang tidak punya pengalaman bisa mendalami perkara," tuturnya.
Farhat menegaskan, yang dibutuhkan seorang Ketua KY adalah komitmen, idealisme, profesional, kemampuan kerja dan juga pengalaman. "Jangan sampai KY yang sekarang itu seperti yang dulu, tidak dihormati, tidak bergigi, hanya konferensi pers, tidak ada tindakan jelas dan tegas," tegas Farhat.
Farhat bahkan menyebut Imam Anshory yang mantan politisi telah membuat strategi dengan pengaruh politiknya. Menurutnya, Imam bagaikan pisau bermata dua, yang bisa berada di posisi kiri dan kanan.
"Saya dapat informasi mereka hanya mengejar jabatan. Kalau ayah saya dari awal siapapun yang jadi (Ketua KY), dia legowo. Yang penting masing-masing figur menanam karismatik sehingga bisa membuat rakyat bangsa dan negara," ujarnya.
"Harusnya dihimpun musyawarah bukan pembagian kekuasaan dengan tujuan menguasai KY. Terlihat mereka belum bisa menentukan arah, masih tergantung dari DPR," tandas Farhat. (nvc/ndr)










































