Ayu bersama seratusan penghuni asrama Panti Sosial Bina Netra Cahaya Bathin, di Jl Taman Harapan, Cawang, Jakarta Timur, adalah peserta Debar Boladio (Dengar Bareng Bola di Radio) yang digelar Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNI KS) pimpinan Parni Hadi.
Ayu yang mengaku selalu mengikuti jalannya liga sejak awal musim pertandingan menuturkan, merasa senang dengan acara yang difasilitasi radio publik tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di awal acara, Ayu mengambil posisi duduk berjarak 3 meter dari sumber suara. Alasannya, supaya suara penyiar terdengar jelas di telinganya. "Kalau jauh-jauh sayang enggak kedenger," katanya.
Saat Indonesia Raya diperdengarkan Ayu terlihat khidmat mendengarkan lagu kebangsaan tersebut. Sementara sekelilingnya, menyanyikan lantang lagu ciptaan karya WR Supratman itu.
"Saya berdoa supaya Indonesia menang saja," katanya menjawab alasan tidak ikut bernyanyi lagu 'Indonesia Raya'.
Namun, Ayu tidak diam ketika sekelilingnya menyanyikan 'Garuda di Dadaku' yang selama ini terus didengungkan. Dia bernyanyi sembari bertepuk tangan.
"Enggak mudah denger pertandingan bola dari radio. Kita harus ngebayangin seperti apa situasi di lapangan. Apalagi, kalau penyiarnya semangat ngomongnya," ujar Ayu.
Hal tersebut dibenarkan oleh Dirut LPP RRI Rosarita Niken Widiastuti. Dia mengatakan, dengan mendengarkan siaran langsung pertandingan mereka yang berkebutuhan khusus, tuna netra, harus mampu berimajinasi mengenai keadaan sesungguhnya di rumput hijau.
"Saat penyiar mengatakan bola melambung, mereka harus berimajinasi melambung setinggi apa dan sejauh mana," ujar Niken, sapaan akrab Rosarita.
Dia mengatakan, acara yang digelar pihaknya merupakan kali pertama berlangsung. Selain di 62 stasiun RRI di Indonesia, 7 stasiun yang berada di luar negeri dan 14 stasiun di perbatasan merelay siaran langsung pertandingan.
"Seperti di Nunukan, Entikong yang listriknya masih terbatas dan warganya tidak bisa menyaksikan pertandingan di televisi, mereka bisa dengarkan dengan radio baterai," ujar Niken.
Gemuruh sorak-sorai terdengar ketika penyiar RRI menyatakan Timnas Indonesia pertama kali menjebolkan jaring lawan melalui M. Nasuha sekaligus menyamakan kedudukan skor Indonesia-Malaysia.
"Harapan masih ada, Indonesia pasti menang," kata pemandu sorai peserta, Solihin (60).
Selain sebuah speaker berukuran besar yang disediakan penyelenggara dalam acara Debar, terdapat screen berukuran 2x3 meter untuk masyarakat sekitar yang mengikuti jalannya acara.
Wasit meniup panjang peluit pertanda pertandingan usai. Muklis hanya bisa terdiam dan menggaruk kepalanya yang berambut cepak.
"Sedih yo, pa. 2-1 ya, kecewa ya kecewa tapi mau gimana lagi?" kata Muklis sambil berjalan meninggalkan aula asrama.
(ahy/mok)











































