"Kita tidak main-main dalam membuat jalan layang ini. Jalan layang itu nantinya akan tahan gempa hingga 7 SR," ujar Kepala Bidang Jembatan Dinas Pekerjaan Umum DKI, Novizal, saat dihubungi detikcom, Rabu (29/12/2010).
Untuk membuatnya tahan gempa berkekuatan 7 SR tersebut Dinas PU DKI telah melakukan kajian terhadap struktur kondisi tanah yang akan dijadikan pondasi tiang pancang. Pondasi pun akan ditanam dalam-dalam di dasar tanah.
"Untuk jalan layang Antasari pondasinya sedalam 17 meter sampai 20 meter. Untuk yang di Casablanka bisa sampai 30 meter pondasi, karena struktur tanah kurang bagus jadi harus dalam," tambahnya.
Novizal menerangkan pembangunan dua jalan layang tersebut saat ini dalam tahap pengerjaan pondasi. Pengerjaan dilakukan mengebor tanah lalu diberi besi dan dicor dengan beton.
"Pembangunan fisik dilakukan setelah pondasi selesai. Supaya tidak mengganggu lalu lintas, kita hanya kerja di malam hari," terangnya.
Pembangunan dua jalan layang tersebut akan menelan dana sekitar Rp 2,02 triliun, dengan rincian untuk jalan layang Antasari hingga ke Blok M sepanjang 5,5 km menelan sekitar Rp 1,3 triliun dan jalan layang Dr Satrio yang menghubungkan Kampung Melayu hingga ke Tanah Abang, panjangnya sekitar 2,3 km menelan Rp 700-an miliar.
"Ukuran jalannya kita buat sama yaitu 8,75 x 8,75 meter, itu untuk dua ruas jalan, target pertengahan 2012 sudah selesai," imbuhnya.
Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan bahwa untuk mengatasi kemacetan di Ibukota yang semakinย parah tidak bisa dilakukan dengan menambah jalan ke samping, melainkan harus ke atas. Jalan susun atau jalan layang pun akan dibuat untuk mengurangi angka kemacetan di Ibukota.
(her/nwk)











































