"Pemilih pengambang ini adalah mereka yang mudah pindah ke lain hati. Ini yang membuat dinamika politik berjalan fluktuatif. Pemenang (dalam pemilu) yang berbeda-beda ini karena besarnya pemilih pengambang," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (29/12/2010).
Dari data, lanjut Burhanuddin, orang-orang yang tidak memiliki loyalitas dengan partai atau pun tokoh partai jumlahnya mencapai 75 persen. Sedangkan yang memiliki ikatan loyalitas jumlahnya sekitar 25 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Burhanudin menilai, hubungan yang lebih harmonis dengan pemerintah merupakan hal yang diperlukan. Dari survei, LSI mengantongi data, 30 persen responden tidak menyetujui kerja partai oposisi. Dari 30 persen tersebut, banyak yang memahami istilah oposisi dengan tidak tepat, seperti misalnya asal beda atau asal kritik.
"Untuk menyeimbangkan pendulum, Taufiq Kiemas mencoba memainkan peran sebagai mediator dan memperbaiki citra bahwa PDIP bukan waton suloyo atau asal berbeda," sambung pria berkacamata ini.
Terkait Jubir PD, Ruhut Sitompul, yang menyebut tiga alternatif kandidat capres untuk menghadapi pemilu 2014, yakni Edi Wibowo (Adik Ani Yudhoyono), Anas Urbaningrum (Ketum PD), dan Ani Yudhoyono, hal itu dinilai Burhanuddin sebagai pernyataan personal Ruhut.
Dia berpandangan, masih terlalu dini bagi PD untuk bicara sosok yang akan dicapreskan. Apalagi keputusan untuk capres diambil melalui majelis tingggi, sedangkan Ruhut bukan anggota di majelis tinggi.
"Sah-sah saja kalau secara personal menyatakan begitu. Tapi saya rasa Demokrat akan menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan siapa yang akan mereka dukung. Dan itu bukan sekarang," imbuh Burhanuddin.
Dia mengakui, sosialisasi capres sejak awal memang bisa meningkatkan popularitas calon sebelum hari-H itu tiba. Namun ada beberapa kasus yang ternyata sosialisasi dini tidak bisa mengangkat popularitas, misalnya Wiranto dan Hamengkubuwono X.
"Pencapresan ini selain ukuran-ukuran rasional yang biasa dipakai untuk kerja politik juga ada unsur momentum. Momentum ini gabungan campur tangan Tuhan dan tim sukses yang rapi. Momentum ini tidak datang ke semua orang dan tidak datang dua kali," tutur Burhanuddin.
(vit/fay)










































