Hal itu dialami oleh Rahmat. Pria yang sebelumnya telah membeli empat voucher yang masing-masing seharga Rp 50 ribu itu harus gigit jari. Hingga loket ditutup, tiket yang telah diidamkannya tak kunjung di tangan.
"Saya tadi sudah bawa voucher dan nota pembeliannya, dibilang tiket habis. Ke mana tiketnya, wong voucher masih ada kok dibilang tiket habis," kata Rahmat yang akhirnya memilih berdemo di depan kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Selasa (28/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lain lagi yang dialami Iwan. Empat voucher yang ada di genggamannya tidak bisa ditukar dengan tiket untuk menonton pertandingan. Panitia berdalih, Iwan tidak memiliki nota pembeliannya.
"Saya nggak dikasih nota pembelian karena kemarin Minggu kan ricuh, jadi saya hanya dapat voucher saja," kata Iwan. Iwan membeli empat voucher seharga masing-masing Rp 50 ribu untuknya dan tiga temannya.
Hingga pukul 14.30 WIB, suporter yang kecewa masih berunjuk rasa di depan kantor PSSI. Mereka meminta kejelasan dari PSSI soal nasib mereka. "PSSI harus jelaskan! PSSI korup!" kata suporter yang jumlahnya sekitar 100 orang itu.
Demo tersebut dijaga oleh sejumlah polisi dan petugas keamanan dari PSSI. Selain itu, ada juga pasukan polisi penghalau massa yang dilengkapi dengan anjing polisi.
(ken/fay)










































