"Itu sangat melukai hati kita semua. Katanya ada 400 tiket dengan hak istimewa bagi tamu-tamu khusus. Sementara masyarakat harus berjibaku, berebut mendapatkan tiket," kata pengamat politik Ray Rangkuti saat berbincang dengan detikcom, Selasa, (28/12/2010).
Menurutnya, banyaknya rombongan politisi yang ramai-ramai menonton sepakbola kali ini menunjukan etika politik masih sangat rendah. Harusnya, biarkan masyarakat menikmati sepakbola sebagai hiburan rakyat tanpa dicampuri polemik politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, Ray juga mengritik Presiden SBY sebagai Presiden dengan volume menonton Timnas sangat sering, bahkan sejak babak penyisihan. Meski pada laga di Bukit Jalil tidak menonton langsung tapi dia juga menggelar nonton bareng di rumahnya di Cikeas. Kebiasaan nonton bareng ini dia lakukan sebelumnya yaitu di pertandingan persahabatan Indonesia-Uruguay serta nonton bareng final Piala Dunia di Cikeas.
"Sudahlah, biarkan sepakbola ini menjadi milik rakyat. Contohlah Malaysia, tak ada satupun politisi yang menonton langsung ke stadion. Bahkan Perdana Menterinya sekalipin," tutup Ray.
(asp/ape)











































