"Ada 28 persen sampah yang belum terangkut, sehingga yang terangkut adalah 72 persen," kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta Ubaidillah dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (27/12/2010).
28 Persen sampah yang belum terangkut, sambung Ubai, antara lain termasuk yang
dimanfaatkan oleh pemulung. Meski begitu, yang perlu diwaspadai adalah yang masih
bertebaran di jalan dan masuk ke aliran sungai sehingga bisa menyebabkan banjir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, sampah di DKI, 55 persennya merupakan sampah organik dan sisanya adalah sampah nonorganik. Sampah organik yang banyak ditemui antara lain sisa sayuran dan kertas.
"Sampah non organiknya ada plastik, botol, seng, besi, pecahan kaca, gelondongan kayu, nilon dan bahan industri," imbuh Ubai.
Kebanyakan sampah yang masuk ke aliran sungai adalah jenis nonorganik. Karena merupakan jenis nonorganik, maka bila sampah menumpuk dapat menyumbat kali dapat menyebabkan banjir.
Terkait kenaikan volume sampah, memang ada indikasi naik karena jumlah penduduk Jakarta yang juga meningkat. Meski begitu kenaikan tidak terlalu tinggi. "Kadang naik, kadang sedang," lanjutnya. (vit/fay)











































