"Energi buat partai baru itu lebih besar ketimbang islah," kata pakar resolusi konflik dari Universitas Indonesia, Bachtiar Aly, saat berbincang dengan detikcom, Senin (27/12/2010).
Bachtiar mengatakan, kendala pendirian parpol baru itu bukan hanya datang dari internal, namun juga dari kalangan partai besar yang mencoba menghambat parpol kecil lewat pembahasan UU paket politik di DPR.
Belum lagi, lanjutnya, terus berhadapan dengan PKB pimpinan Muhaimin, yang mendapat dukungan pemerintah, bukanlah perkara mudah.
"Partai pendukung kuasa itu bisa survive meski tidak populer, seperti bisa dapat proteksi, privilege dan sebagainya," kata Bachtiar.
Bachtiar mengatakan, kubu Yenny sebaiknya memaksimalkan kemungkinan islah lebih dulu sebelum memutuskan mendirikan partai baru. Menurutnya, islah masih mungkin dilakukan dengan mediasi tokoh yang dihormati kedua belah pihak, skema teknis yang jelas, dan lewat silent diplomacy.
"'Kuenya' dibicarakan sejak awal. Apa target Muhaimin, apa target Yenny? Toh keduanya punya keinginan sama untuk berkuasa. Islah juga jangan terus diwacanakan sehingga tidak menimbulkan perasaan gengsi," kata Bachtiar.
Ketua Dewan Guru Besar FISIP UI ini mengatakan, jika skema islah tersebut tidak bisa dijalankan, barulah Yenny membuat partai baru dengan segala konsekuensinya.
"Yang tidak boleh dilupa euforia massa itu tidak selalu sama dengan hasil pemilu. Yenny tidak boleh terkecoh itu. Barometernya tidak bisa sekedar euforia dan dukungan massa. Suka tidak suka partai harus punya uang, kalau tidak akan mati langkah," ujar Bachtiar.
(lrn/nvt)











































