"Setoran ke siapa? Nggak ada (setoran). Saya nggak tahu setoran ke siapa? Apakah kepada petugas di sana?" kata Kabagpenum Mabes Polri, Kombes Pol Boy Rafly Amar saat ditemui di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Kamis (23/12/2010).
Menurut Boy, data yang dikeluarkan WikiLeaks tidak bisa dipastikan benar. Ia menduga ada kepentingan tertentu dari informasi itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boy mengatakan, bocoran WikiLeaks merupakan keniscayaan dari era kebebasan informasi. Mantan Kabidhumas Polda Metro Jaya ini menyerahkan kepada masyarakat soal kebenaran info WikiLeaks.
"Kalau menurut pendapat saya biarkan saja kebebasan informasi itu berjalan, dan terserah masyarakat mau pakai atau tidak. Kita tidak merasa perlu menanggapi," pungkasnya.
Sebelumnya media-media Australia pada Kamis (23/12) marak memberitakan sepak terjang TNI di Papua. Sebuah kawat diplomatik pada Maret 2006 menyebutkan PT Freeport menyetor sejumlah dana ke TNI dan Polri untuk membantu pengamanan kegiatan Freeport.
Seperti dilansir Sydney Morning Herald, diungkapkan betapa Kedubes AS Jakarta sangat memperhatikan kepentingan PT Freeport. Dalam sejumlah kawat diplomatik, terungkap kalau Freeport sering berkeluh kesah ke Kedubes AS Jakarta.
Pada Maret 2006, manajer senior dari perusahaan tambang itu mengadu, "Korupsi merajalela di pejabat kabupaten dan provinsi, membuat kecewa masyarakat Papua."
(ape/mok)











































