"Kondisi saya berangsur-angsur mulai membaik. Saya nggak bawa masalah ini lebih jauh lagi ke hukum," kata Mulyawan saat dihubungi detikcom, Kamis (23/12/2010).
Mulyawan mengatakan, tidak ada alasan yang mendasar kenapa dirinya tak mau mempolisikan penembak tersebut. Namun kejadian ini cukup menjadi pelajaran bagi para pesepeda di komunitas bike to work yang suka pulang larut malam agar lebih waspada lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulyawan mengaku dirinya sebenarnya adalah pengamat air soft gun. Karena itu, saat pelaku mengeluarkan tembakan ke arahnya, Mulyawan sudah mengetahui senjata yang digunakan adalah air soft gun.
Namun Mulyawan masih heran dan bingung kenapa pelaku tersebut tiba-tiba saja menembak ke dirinya. Padahal selama ini, Mulyawan tidak pernah punya masalah dengan siapa pun.
"Saya sudah tahu itu air soft gun dari suaranya, senjatanya. Saya waktu itu lewat di Jl Kalimalang setelah depo bangunan setelah Raden Inten," ujarnya.
Menurut Mulyawan, di komunitas bike to work rombongan Bekasi (Robek) memang ada beberapa orang juga yang masuk dalam komunitas air soft gun. Mereka pun sedang mencari apakah pelaku penembakan tersebut termasuk dalam komunitas bike to work juga atau bukan.
"Setelah kejadian ini saya juga baru tahu, kata teman-teman kan di kita juga banyak yang masuk di komunitas air soft gun," ungkapnya.
Mulyawan menceritakan, saat kejadian ia tidak sempat melihat nomor plat mobil pelaku. Mulyawan juga baru sadar tangannya terluka saat mobil pelaku sudah melaju ke depan melewatinya.
"Saya nggak sempat lihat. Nggak ada kendaraan lain juga saat itu. Kan waktu kejadian itu pukul 01.00 WIB dini hari. Saya juga nggak lihat wajahnya karena gelap," ungkapnya.
(gus/mok)











































