"Dari komunikasi politik, ini progress. Ada perkembangan. Ini soal komunikasi, terutama Sultan dan SBY, apalagi adanya polemik setelah pernyataan SBY pada 26 November lalu," ujar pengamat politik dari Charta Politica, Yunarto Widjaya, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (22/12/2010).
Pertemuan kedua tokoh tersebut sangat penting sebagai jembatan yang mengecilkan jarak antara pusat dengan daerah. Meski begitu, Yunarto berpendapat, munculnya Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie sebagai fasilitator tidak memiliki arti apa-apa. Sebab selama ini yang terlanjur menjadi sorotan dari polemik RUUK DIY adalah SBY dan Sultan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Subtansi jangan dulu, agar jangan sampai ada polemik," imbuh dia.
Selama ini, lanjutnya, terkait RUU Keistimewaan DIY seolah-olah memang ada dua kubu yang berkonflik. Dengan berkaca dari peristiwa sebelumnya, yakni pernyataan presiden yang menjadi polemik, maka menyatakan kepada publik soal adanya pertemuan informal antara keduanya sudah cukup.
"Sekarang biarkan dialektika berjalan dengan alamiah," ucap Yunarto.
Sultan menyampaikan, pertemuan dengan SBY berlangsung di Wisma Negara, kompleks Istana Presiden. Sultan enggan membeberkan hasil pertemuan dengan SBY dan Ical itu. "Yang namanya dialog kan tidak sekali jadi. Wong di DPR saja belum dibahas," kata Sultan.
Tapi Sultan tetap pada sikap penetapan gubernur untuk DIY? "Ya kita memang bicara itu. Tapi itu kan proses, yang penting kita dibuka peluang dialog," ucap dia.
Saat ditanya apakah sikap penetapan Gubernur DIY adalah harga mati, Sultan menyerahkan semuanya pada masyarakat. "Masalah itu kan aspirasi masyarakat," tutup Sultan.
(vit/fay)










































