Demikian tegas Ketum DPP PD, Anas Urbaningrum, menanggapi 'keluhan' PPP dan PKS terhadap peran duet Golkar-Demokrat yang dinilai terlalu dominan dalam Setgab Koalisi. Penegasan ini dia sampaikan dalam percakapan lewat telepon dengan detikcom, Selasa (21/12/2010).
"Tidak ada kepentingan sepihak di Setgab. Yang ada adalah kepentingan pemerintahan koalisi yang disangga bersama oleh partai-partai koalisi," tegas Anas.
Mantan anggota KPU itu kemudian menjelaskan dasar pemikiran pembentukan Setgab Koalisi pada pertengahan tahun ini. Lembaga yang merupakan forum pertemuan ide, komitmen, kebersamaan dan kekompakan partai koalisi itu punya misi menjaga stabilitas sekaligus mendorong produktivitas pemerintahan koalisi.
"Presiden SBY dan para pimpinan partai koalisi bersepakat untuk membangun Setgab untuk memastikan pemerintah makin banyak melahirkan kebijakan yang bermanfaat untuk rakyat. Karena itu, untuk hal-hal yang strategis disepakati untuk selama satu suara," paparnya.
Lebih lanjut dia mengingatkan, kebijakan pemerintah adalah adalah kebijakan yang dibahas dan ditetapkan di rapat kabinet di mana seluruh partai koalisi mempunyai perwakilan. Maka tidak benar bila kemudian menuding ada kepentingan sepihak atau dominasi dari satu-dua partai dalam Setgab.
"Di Setgab tidak ada logika partai dominan, yang ada logika kepentingan dan kebijakan pemerintah," ujar Anas sembari mengakui bahwa Setgab yang kinerjanya terus membaik kini masih mencari bentuk yang pas.Seperti diberitakan sebelumnya, Wasekjen PKS, Mahfudz Siddik, mengungkapkan kekecewaan terhadap praktek dalam Setgab yang dinilai didominasi oleh Golkar-Demokrat. Dia curiga duet partai besar itu sengaja meminggirkan peran partai-partai tengah yang tergabung dalam Setgab untuk kepentingan pengajuan pasangan capres-cawapres di 2014.
Untuk membendung dominasi Golkar-PD, politis senior PKS itu lantas mengajak PPP, PAN dan PKB untuk sedari dini menggalang kekuatan bersama menghadapi Pemilu dan Pilpres 2014. Bila perlu menggandeng PDIP yang kecil peluangnya bergabung dengan Golkar-PD.
"Sangat mungkin kekuatan tengah tampil dengan capresnya sendiri. Bahkan bisa kolaborasi dengan PDIP yang kecil kemungkinan ke Demokrat atau Golkar," tandas Mahfudz Siddik. (lh/nrl)











































