"Jika bangun PLTN dengan kapasitas 300 MW, uranium kita itu hanya cukup untuk 11 tahun. Jika kapasitas PLTN lebih dari 300 MW, ya tentu uraniumnya langsung habis," kata Guru Besar Fakultas Teknik UI Rinaldy Dalimi usai Seminar Energi Terbarukan di Gedung Pasca Sarjana Undip, Jl Imam Bardjo Semarang, Selasa (21/12/2010).
Melihat sisi teknologi, barang kali, ahli asal Indonesia memang bisa diandalkan. Tapi hal itu tidak menjamin semua PLTN aman-aman saja. Rinaldy mencontohkan, kecelakaan di reaktor nuklir Chernobhyl, Ukraina, terjadi karena kesalahan kecil pada pengoperasian PLTN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di dunia, hanya 15 persen negara yang punya tenaga nuklir. Sebagian diantaranya mau ditutup, karena tidak efisien dan beresiko. Kenapa kita malah mau bikin?" kata akademisi yang juga anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) ini.
Rinaldy mengaku telah berkunjung ke beberapa negara untuk menilik energi terbarukan. Yang cukup populer adalah energi tenaga matahari (solar energy). Di Cina, misalnya, riset pemanfaatan tenaga matahari terus digalakkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari warga.
"Saya yakin, kelak, rumah akan menjadi sumber energi. Atap rumah jadi penyimpan cahaya matahari, kemudian diolah dan diubah menjadi energi. Menurut riset, untuk ukuran atap dengan luas 5x5 meter, menghasilkan 2000 KWH. Ini sudah dimulai di Cina. Mereka sudah bikin dinding energi matahari," papar Rinaldy.
PLTN direncanakan dibangun di Semenanjung Muria, Jepara, dan beroperasi pada tahun 2016 mendatang. Gerakan penolakan lumayan besar. Namun, hingga kini, rencana itu belum begitu jelas realisasinya.
(try/lh)











































