Bocornya ratusan relief dan stupa induk candi yang sedang dalam pemugaran itu, sama sekali tidak mempengaruhi antusiasme wisatawan domestik dan mancanegara. Mereka tetap berdatangan ke Borobudur.
Stupa induk bocor disebabkan hilangnya pasir dan penutup pada bagian sambungan batu stupa yang disebut mortar. Tidak jauh berbeda dengan 112 dinding relief yang dipugar, karena sistem drainase yang rusak dan merembes ke lantai dan menembus dinding relief di pinggiran candi.
Akibatnya, ratusan dinding relief lembab dan jika dibiarkan akan muncul kadar asam yang sangat tinggi. Lumut menutupi relief dan batu yang ada di relief bisa menghitam dan mengeras.
Kepala Balai Konservasi Candi Borobudur Magelang, Marsis Sutopo menyatakan kerusakan 112 bagian relief candi, tidak ada kaitannya dengan terjadinya erupsi Merapi. Ini sudah merupakan pekerjaan tahunan dari Balai Konservasi Candi Borobudur Magelang.
"Dari 112 bagian dinding relief candi, tinggal dua bagian relief candi yang sampai sekarang belum selesai. Yaitu relief bagian barat daya dan relief bagian barat laut. Mudah-mudahan mulai akhir bulan ini sudah bisa selesai untuk perbaikan relief candi dilantai tiga," kata Marsis.
Marsis menyatakan untuk penanganan tanggap darurat terhadap candi Borobudur yang diselimuti abu vulkanik, Balai Konservasi Borobudur tetap membuka candi mulai hari ini untuk umum. "Untuk pemanfaatkan kembali untuk dikunjungi wisatawan, sehingga wisatawan yang berkunjung mempunyai pengetahuan atau pengalaman tentang penanganan usai berkunjung ke candi," ujarnya.
Marsis menyatakan beberapa bagian yang sudah diperbolehkan untuk dikunjungi adalah lantai pundak, lantai kaki atau selasar candi, lantai lorong atas hanya di lantai tujuh. "Untuk lantai tiga pada bagian barat daya dan barat laut tetap kita tutup karena ada pengerjaan pemugaran dan pembersihan relief candi yang bocor," imbuhnya.
Pembukaan candi Borobudur disambut gembira para wisatawan. Mereka tampak menikmati suasana walaupun tidak seluruh candi bisa dikunjungi mereka. Beberapa portal kayu di berbagai sudut membatai ruang gerak mereka di situs perlindungan budaya UNESCO ini.
"Saya sangat senang dengan dibukanya kembali candi Borobudur. Sayang jika candi semegah ini tidak dibuka dan dimanfaatkan kembali untuk dunia wisata," kata Heli (47) wisatawan asal Semarang.
Turis asing pun senang dengan dibukanya kembali Borobudur. "Borobudur adalah monumen kemanusiaan yang paling indah. Kami pertama kali ke Indonesia dan akan kembali lagi kesini," kata Gabriel Stevano (65) dan istrinya.
(fay/fay)











































