Seorang eks napi terorisme, Yusuf Adirima mengatakan, setiap kali ada penangkapan, dirinya selalu diinterogasi polisi. Padahal, setelah keluar dari penjara, ia berusaha menjadi individu baru, jauh dari kegiatan terkait terorisme.
"Sebetulnya, risih ditanya-tanya terus. Tapi ya mereka (polisi) tetap seperti itu," kata Yusuf di Dapoer Bistik, Jl Dr Wahidin, Semarang, Senin (20/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eks napi lain, Harry Setya Rahmadi menyatakan hal serupa. Ia selalu dicari polisi saat aksi terorisme muncul.
"Mereka kontak lewat telepon, ngajak bertemu, dan bertanya pada hal-hal yang sama sekali tidak saya ketahui. Kalau orang-orang yang terlibat, saya memang banyak yang kenal, tapi saya tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah keluar dari penjara," papar lelaki yang dihukum karena menginapkan Noordin M Top yang menyamar atas nama Ridwan itu.
Yusuf keluar dari penjara Januari 2009, sementara Harry keluar dua bulan kemudian. Kedua orang itu kini bekerja sama dengan Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, untuk membuka usaha warung makan dan mengelola tambak.
"Secara ideologi mereka sulit atau bahkan tidak bisa diubah. Tapi mereka tidak otomatis terkait terorisme setelah keluar (penjara). Kami berharap polisi proporsional dalam menilai mereka dan eks napi terorisme," terang Huda.
Pada awalnya, setelah keluar dari penjara, Yusuf dan Harry cukup repot saat kembali ke masyarakat. Namun lambat laun, mereka bisa diterima karena berusaha terbuka atas kasusnya. Mereka meyakinkan kepada semua orang bahwa mereka ingin menjalani hidup baru yang lepas dari aksi terorisme.
(try/fay)











































