Fakta ini terungkap lewat bocoran kawat diplomatik Kedutaan Besar AS di Wellington, Selandia Baru, yang dilansir WikiLeaks, Minggu (19/12/2010).
Kawat diplomatik rahasia tersebut dikirim 31 Agustus 2005. Saat itu, AS ingin memindahkan para tahanan Uighur, sebuah kelompok etnis dari Asia Tengah dan provinsi Xinjiang, China.
Kepala Deputi Misi tersebut, Katherin Hadda bertemu dengan menlu Selandia Baru Simon Murdoch untuk membahas kemungkinan pemindahan ini. Bagi Hadda, Selandia Baru adalah tempat yang sempurna bagi para tahanan.
"Negara dengan komunitas terbuka dan sejarah panjang dalam menangani tahanan dan imigran, dan memiliki kemampuan toleransi yang tinggi pada kelompok-kelompok tersebut," demikian isi dokumen seperti dilansir HeraldSun.com.
Menjawab permintaan tersebut, Murdoch meminta waktu agar bisa berkonsultasi dengan pihak terkait. Tak lama berselang, tawaran AS itu ditolak dengan alasan Selandia Baru hanya menerima tahanan setelah ada perintah dari PBB.
Keputusan tersebut diambil oleh menlu Selandia Baru berikutnya, Phil Goff dan Menteri Imigrasi Paul Swain.
Akhirnya, tahanan Uighur tersebut tetap ditahan di Teluk Guantanamo, meski sempat dipindahkan juga ke negara lain seperti Albania, Bermuda dan Peru.
(mad/mei)











































