"Sekilas memang akan mengatasi kemacetan, tapi hanya sementara. Menurut perkiraan kami, antara 6 bulan sampai setahun bisa mengakomodir jalan. Tapi nanti macet lagi," kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta Ubaidillah dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (19/12/
Ditambahkan dia, penambahan kendaraanlah yang akan membuat kemacetan di seputar ruas jalan tersebut akan kembali terjadi. Jika asumsinya, dalam sehari ada penambahan 200 unit kendaraan, maka dalam setahun jumlahnya akan luar biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskannya, potensi kemacetan juga terjadi pada saat proyek berlangsung. Hal itu dikarenakan jalan yang menyempit karena sebagian ruas jalan digunakan untuk membangun jalan layang.
"Antisipasinya hanya imbauan agar hindari jalan tersebut. Tapi itu bisa menyebabkan kemacetan di jalan lainnya karena yang biasa melewati jalan itu berpindah," terang Ubai.
Setidaknya, menurut dia, pembangunan jalan layang akan memakan waktu setahun. Karena itu dalam waktu setahun itu terjadi kerugian sosial dan ekonomi akibat kemacetan yang berlebih di banding hari biasa.
"Kemacetan menyebabkan boros bahan bakar dan polusi udara akibat kendaraan, belum lagi ancaman keselamatan akibat besarnya volume kendaraan," ucap Ubai.
Pembangunan jalan layang non-tol yang tengah dibangun yaitu jalan layang Antasari yang menghubungkan Antasari hingga ke Blok M sepanjang 5,5 km. Proyek ini menelan sekitar Rp 1,3 triliun dengan ruas Pasar Inpres Cipete-Lapangan Mabak Blok M.
Sedangkan jalan layang Kampung Melayu-Tanah Abang dibangun sepanjang 2,3 km dengan ruas Jalan KH Mas Mansyur-Jl Prof Dr Satrio. Jarak antara tanah dengan jalan layang di atasnya akan dibuat setinggi 10-12 meter. Proyek ini diperkirakan menelan dana Rp 700-an miliar. Pada November 2012, proyek ini ditargetkan selesai.
(vit/nwk)










































