Kemendiknas Target Munculkan 7.000 Doktor Baru Tiap Tahun

Kemendiknas Target Munculkan 7.000 Doktor Baru Tiap Tahun

- detikNews
Kamis, 16 Des 2010 18:40 WIB
Jakarta - Kementerian Pendidikan Nasional akan memacu jumlah dosen yang menyandang gelar doktor. Setiap tahunnya, Kemendiknas menargetkan sebanyak 7.000 lulusan S3 muncul.

"Kita ini memiliki 270 ribu dosen. Dari jumlah tersebut yang berlatarbelakang S3 baru 23 ribu, yaitu kurang dari 10 persen," kata Mendiknas M Nuh pada pembukaan konferensi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/12/2010).

Menurut Nuh, dengan sekitar 7.000 doktor setiap tahunnya itu, maka pada tahun 2015 mendatang, jumlah dosen berpendidikan S3 naik menjadi 20 persen dari 270 ribu dosen. Program ini akan disokong dengan sejumlah beasiswa baik dari kementeriannya maupun dari luar negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan beasiswa yang tersedia, baik itu dari Kemendiknas atau bekerja sama dengan berbagai negara rasa-rasanya Insya Allah akan bisa terealisir apalagi kerjasama dengan ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian," kata Nuh di depan Wapres Boediono dan 65 ilmuwan peserta konferensi.

Terkait dengan perguruan tinggi secara kelembagaan, Nuh menambahkan, universitas di Indonesia saat ini tidak boleh lagi memposisikan dalam fase investasi sumber daya manusia. Kampus harus memberikan makna lebih real berupa penemuan produk-produk inovatif.

"Fasenya bukan lagi fase investasi tapi sudah saatnya perguruan tinggi memberikan makna real dalam produk-produk inovatif baik yang sifatnya tangible maupun intangible," ujar mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, ini.

Kepada ilmuwan-ilmuwan dari dalam dan luar negeri itu, Nuh berpesan agar membangun jaringan yang erat dengan Tanah Air. Meski berada di negeri orang, para ilmuwan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada bangsa Indonesia yang merupakan kampung halaman mereka.

"Kemampuan kita dan kecintaan kita dalam memberikan makna kepada bangsa dan negara itu itulah hakekat dari nasionalisme itu. Nasionalisme bukan ditentukan locus (tempat) seseorang tapi fungsi kemanfaatan yang dia berikan kepada bangsa ini. Meskipun locus nya di Indonesia, kalau dia hanya mengeruk kekayaan Indonesia, itu bukanlah nasionalisme," tandasnya.

(irw/nwk)


Berita Terkait