"Kita ini memiliki 270 ribu dosen. Dari jumlah tersebut yang berlatarbelakang S3 baru 23 ribu, yaitu kurang dari 10 persen," kata Mendiknas M Nuh pada pembukaan konferensi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/12/2010).
Menurut Nuh, dengan sekitar 7.000 doktor setiap tahunnya itu, maka pada tahun 2015 mendatang, jumlah dosen berpendidikan S3 naik menjadi 20 persen dari 270 ribu dosen. Program ini akan disokong dengan sejumlah beasiswa baik dari kementeriannya maupun dari luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan perguruan tinggi secara kelembagaan, Nuh menambahkan, universitas di Indonesia saat ini tidak boleh lagi memposisikan dalam fase investasi sumber daya manusia. Kampus harus memberikan makna lebih real berupa penemuan produk-produk inovatif.
"Fasenya bukan lagi fase investasi tapi sudah saatnya perguruan tinggi memberikan makna real dalam produk-produk inovatif baik yang sifatnya tangible maupun intangible," ujar mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, ini.
Kepada ilmuwan-ilmuwan dari dalam dan luar negeri itu, Nuh berpesan agar membangun jaringan yang erat dengan Tanah Air. Meski berada di negeri orang, para ilmuwan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada bangsa Indonesia yang merupakan kampung halaman mereka.
"Kemampuan kita dan kecintaan kita dalam memberikan makna kepada bangsa dan negara itu itulah hakekat dari nasionalisme itu. Nasionalisme bukan ditentukan locus (tempat) seseorang tapi fungsi kemanfaatan yang dia berikan kepada bangsa ini. Meskipun locus nya di Indonesia, kalau dia hanya mengeruk kekayaan Indonesia, itu bukanlah nasionalisme," tandasnya.
(irw/nwk)











































