Bagi bangsa Indonesia, sikap moderat adalah komponen inheren dari pandangan hidup, yang telah berkembang selama bertahun-tahun sebagai jawaban terhadap kemajemukan masyarakat.
Hal itu disampaikan Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI Andri Hadi dalam sambutan pembukaan Interfaith Dialogue di Casa Asia, Ministerio de Asuntos Exteriores y de CooperaciΓ³n (Urusan Asia, Kementerian Luarnegeri dan Kerjasama, red) Madrid (15/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjut Andri, bangsa Indonesia mempunyai budaya yang mendorong musyawarah secara luas. Selama berabad-abad bangsa Indonesia telah mempraktikkan seni dialog dan memupuk toleransi.
"Ini cara kami dalam memperlakukan tradisi etnik kami yang sangat ragam," ujar Andri.
Dikatakan, dialog antar-kebudayaan, peradaban dan agama mempunyai potensi besar dalam mempromosikan negosiasi dan maksud perdamaian.
"Dialog ini harus merupakan proses tahan lama dan hal itu, dalam lingkup internasional sekarang, bukan sebuah opsi tapi sesuatu yang sangat mendesak," tegas Andri.
Dialog semacam itu juga merupakan alat produktif untuk mempromosikan ekonomi dan pembangunan sosial, perdamaian dan keamanan, HAM serta aturan hukum dalam menjamin kehidupan lebih baik bagi semua.
Ketegangan
Menurut Andri, sepanjang masa Indonesia dapat menikmati damai dan harmoni untuk menjalankan dialog antar-masyarakat dan saling pengertian antar-warganya.
Meskipun demikian, kadang-kadang Indonesia juga dihadapkan pada tantangan-tantangan antar-agama, bahkan inter-agama, sampai hari ini.
"Kami tidak menafikan bahwa kadang memang ada ketegangan tak terhindarkan dan konflik di antara kami, seperti juga bangsa lain dengan begitu banyak keragaman dan perbedaan," papar Andri.
Menghadapi situasi ini, lanjut Andri, presiden Yudhoyono dalam beberapa kesempatan telah menegaskan pentingnya mencapai harmoni antar-peradaban.
Sebagai langkah penting dalam mencapai tujuan-tujuan ini presiden telah menyoroti 9 poin yang secara pragmatis dapat dijelaskan untuk mencapai perdamaian di kalangan masyarakat internasional.
Poin-poin itu mencakup signifikansi untuk mengintensifkan proses dialog dan jangkauan, yang sekarang tampaknya mulai berkembang. Juga nilai pendidikan dalam menjembatani saling pengertian antar-komunitas yang beragam, multikulturalisme dan toleransi.
Dialog untuk Damai
Dialog di Madrid ini dinilai telah menandai kontribusi positif Indonesia-Spanyol untuk mengimplementasikan tujuan bersama dalam menciptakan harmoni antar-peradaban.
Meskipun peran pemerintah dalam hal ini hanya fasilitator, Indonesia mengajak Spanyol untuk mengintensifkan semangat dalam bidang ini dan terus mendesak partisipasi aktif masyarakat religius dan masyarakat madani untuk menerjemahkan dialog ke dalam kerjasama konkrit.
"Kita harus yakin bahwa dialog ini akan menjadi kontribusi luarbiasa terhadap stabilitas dan perdamaian global," demikian Andri.
(es/es)











































