"Engga tepat kalau kita komentarin itu (WikiLeaks)," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga saat dihubungi detikcom, Kamis (16/12/2010).
Yoga menjelaskan, pihaknya tidak berwenang mengomentari bocoran WikiLeaks soal jaringan terorisme Jamaah Islamiyah. Informasi yang keluar dari kawat diplomasisuatu negara harus dikonfirmasi kepada lembaga yang berwenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yoga menambahkan, jaringan terorisme di Indonesia memang sudah relatif berkurang. Namun masih ada beberapa DPO yang masih terus diburu.
"Dalam konteks penegakan hukum siapa-siapa yang terlibat selama masih ada kita terus cari. Kan masih belum seluruhnya. Masih ada DPO yang kita kejar," jelasnya.
Sebelumnya, WikiLeaks mengungkap kawat terkait terorisme di Indonesia, dari Kedubes AS di Canberra, Australia. Badan intelejen Australia berbagi informasi dengan AS, kalau Jamaah Islamiyah dan gerakan teror di Indonesia sudah pecah.
Kawat pada Oktober 2008 silam itu dirilis WikiLeaks dan dilansir harian The Age, Kamis (15/12/2010). Ada pertemuan antara Dirjen Dinas Intelijen Australia (ONA), Peter Varghese dengan pejabat Kemlu AS, Randall Fort.
"Para analis ONA menilai 'bandul telah berbalik' dalam kasus Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia. Kepemimpinannya sudah hancur, banyak anggota seniornya tewas, ditangkap, jadi buron dan kehilangan jaringan dukungan dan dana," lapor Kedubes AS Canberra.
(ape/ndr)











































