PDIP Ragukan Dokumen WikiLeaks Soal Ketidaksukaan China pada Megawati

PDIP Ragukan Dokumen WikiLeaks Soal Ketidaksukaan China pada Megawati

- detikNews
Rabu, 15 Des 2010 15:44 WIB
PDIP Ragukan Dokumen WikiLeaks Soal Ketidaksukaan China pada Megawati
Jakarta - Salah satu dokumen yang dirilis Wikileaks menyebutkan China tidak menyukai gaya kepempimpinan Megawati Soekarnoputri. Namun PDIP meragukan kebenaran dokumen itu karena selama ini hubungan China dan Mega sangat baik.

"Saya agak ragu dengan info WikiLeaks yang berkaitan dengan pandangan China terhadap Megawati Soekarnoputri tersebut," kata Ketua DPP PDIP Bidang Hubungan Luar Negeri, Andreas Pareira kepada detikcom, Rabu (15/12/2010).

Andreas mengatakan, saat Mega menjabat sebagai Wakil Presiden maupun Presiden, beberapa kali telah berkunjung ke China. Mega juga dikunjungi oleh sejumlah pejabat-pejabat pemerintah China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan saat berkunjung terakhir kalinya pada September 2010 sebagai Ketua Umum PDIP, Mega diminta menjadi keynote speaker di Forum Budaya. Mega juga bertemu dengan pemimpin-pemimpin partai maupun pemerintahan mulai tingkat distrik sampai dengan orang nomor tiga di China, Ketua Komite Nasional untuk Pertimbangan Politik Rakyat Jiang Qi Ling dan Wakil Menlu Ai Ping.

"Dalam pertemuan tersebut, Mega dilihat sebagai sahabat China," kata Andreas.

Menurut Andreas, persahabatan Indonesia dengan China telah dimulai dari era Presiden Soekarno. Hingga kini, bangsa China melalui para petinggi-petinggi pemerintahnya maupun petinggi partai sangat menghormati hubungan baik Indonesia-China yang dibangun oleh Presiden Soekarno sejak akhir dekade 1940.

"Para pemimpin China bahkan melihat persahabatan dengan Presiden Soekarno adalah persahabatan generasi pertama. Dengan Mega adalah persahabatan generasi kedua, dan berharap berlanjut menjadi persahabatan generasi-generasi selanjutnya," katanya.

Meski ragu, Andreas menilai, dokumen itu bisa menjadi perhatian bagi PDIP dalam membangun hubungan persahabatan dengan China. "โ€Žโ€‹Dokumen WikiLeaks tersebut bisa menjadi perhatian kita, tetapi tidak harus menjadi referensi untuk Indonesia, khususnya PDI Perjuangan dalam membangun hubungan persahabatan dengan China," katanya.

(ken/fay)


Berita Terkait