Ruhut: China Suka SBY karena Bisa Jaga Stabilitas

Dokumen WikiLeaks

Ruhut: China Suka SBY karena Bisa Jaga Stabilitas

- detikNews
Rabu, 15 Des 2010 11:45 WIB
Jakarta - Juru Bicara Partai Demokrat (PD) Ruhut Sitompul mengaku tidak heran kalau China dalam dokumen WikiLeaks disebut menyukai SBY dibandingkan Gus Dur, Megawati, atau Habibie. Sosok SBY dinilai bisa memberikan stabiltas menjaga investasi China di Indonesia.

"SBY itu memiliki ketegasan militer dan pemikiran sipil sehingga stabilitas ekonomi berjalan baik, wajar kalau China suka," kata Ruhut saat dihubungi detikcom, Rabu (15/12/2010).

Dia menilai, dokumen wikileaks itu memberikan gambaran jujur bagaimana China memandang pemimpin di Indonesia. "China itu kan investor, dia inginnya stabilitas di negara tujuan investasi aman," tambahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedang terkait presiden lainnya, untuk Megawati dinilainya tidak memiliki kharisma yang kuat. Saat pemilu 2004 saja dikalahkan, padahal dia incumbent. Sedang Gus Dur dinilainya tidak bisa menjaga stabilitas dalam negeri.

"Kalau Pak Habibie itu, oleh Golkar saja tidak diterima pertanggungjawabannya di MPR, padahal saat itu parlemen dikuasai Golkar. Ya sekali lagi China kan melihat stabilitas," tutupnya.

Sebelumnya situs WikiLeaks dalam sebuah kawat berstatus rahasia dari Kedubes AS Beijing, mengungkap kalau Pemerintah China bergunjing soal para presiden di Indonesia. Mereka suka Presiden SBY, tapi tidak suka para pendahulunya mulai dari Habibie sampai Megawati Soekarnoputri.

WikiLeaks seperti dilansir dari situsnya, Rabu (15/12/2010), merilis sebuah kawat rahasia dari Kedubes AS di Beijing tertanggal 5 Maret 2007 dengan kode referensi Beijing 1448. Saat itu dilakukan pertemuan antara Wakil Menlu China Cui Tiankai dan Dirjen Urusan Asia Kemlu China Hu Zhengyue, dengan pejabat Kemlu AS Eric John.

Pertemuan mereka untuk membahas sejumlah negara Asean, termasuk Indonesia, mendapat porsi utama. John bertanya pada Hu, bagaimana pemerintah China melihat pemerintah Indonesia yang sekarang.

"Beijing 'tidak terkesan' dengan presiden-presiden yang memimpin Indonesia sejak krisis keuangan Asia di akhir 1990-an," kata Hu kepada John.

Hu pun langsung menambahkan, "Tapi Beijing senang dengan kemajuan Presiden Yudhoyono sejak berkuasa pada 2004," imbuh Hu. (ndr/fay)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini