Saat mengunjungi daerah perbatasan di Pulau Sebatik, Nunukan misalnya, Boediono merasa tersanjung dengan penghormatan bupati setempat.
"Sambutan biasanya, dikatakan, yang kami homati. Tapi pak bupati tadi mengawali sambutan dengan kata 'wapres yang sangat kami cintai. Kata-kata itu lebih menyentuh saya bapak," kata Boediono saat berbicara di Ponpes Mutiara Bangsa, Pulau Sebatik, Nunukan, Kaltim, Selasa (14/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tersentuh dengan sambutan anak-anakku sekalian di sepanjang jalan, apalagi sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih," katanya saat itu.
Di awal menjabat sebagai Wapres pada tahun 2009, Boediono juga tersentuh dan bahkan menangis ketika menerima kunjungan dari penyandang cacat indonesia.
Boediono tak kuasa menahan airmatanya saat berpidato, karena teringat ayahnya yang sejak mudanya didera kebutaan.
"Maaf,saya sangat tersentuh, karena teringat ayah saya. Ayah saya mengalami kebutaan saat usianya masih muda. Beliau tak sempat melihat anaknya menjadi wapres," ucap Boediono sambil mengusap airmatanya dengan sapu tangan.
(gun/van)











































