Aksi Abdulwahab pada Sabtu, 11 Desember lalu menewaskan dirinya dan melukai dua orang lainnya. Aksi itu dilakukan tepat sehari sebelum Abdulwahab genap berumur 29 tahun.
Aksi teroris itu menimbulkan keterkejutan publik di Swedia, negeri yang tidak mengalami serangan teroris selama tiga dekade. Berbeda dengan negara-negara Eropa lainnya yang sudah tak asing dengan serangan teroris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia menyenangkan dan cerdas. Semua keluarganya, orangtuanya juga begitu," kata seorang pegawai di SMA tempat Abdulwahab bersekolah dulu.
"Dia sangat tampan dan supel. Tak ada yang membayangkan dia akan melakukan hal seperti ini," kata wanita yang enggan disebutkan namanya itu seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (14/12/2010).
Abdulwahab datang ke Tranas, sekitar 200 km barat daya Stockholm pada tahun 1992 ketika dia masih berumur 11 tahun. Setelah tamat SMA, pria itu bertolak ke Inggris dan menempuh studi di Bedfordshire University di Luton.
"Sangat tragis melihat kenyataan ini. Dia dulunya orang yang bergaul baik dengan orang-orang seumuran diri, baik itu imigran maupun warga Swedia," kata Elisabeth Aman, kepala sekolah di sekolah tempat orangtua dan adik perempuan Abdulwahab belajar bahasai Swedia ketika mereka tinggal di Tranas.
Banyak yang mengenal Abdulwahab sebagai remaja tampan yang gemar berolahraga basket. Dia dikenal punya banyak teman dan bisa berbaur dengan masyarakat Swedia.
Tranas merupakan kota kecil yang dihuni sekitar 18 ribu jiwa. Kota itu itu merupakan salah satu kota di Swedia yang banyak kedatangan imigran. Kebijakan imigrasi Swedia yang relatif terbuka menjadikan negeri itu sebagai tujuan utama bagi banyak orang dari negara-negara yang dilanda perang.
(ita/nrl)











































