Pelaku pengeboman telah dipastikan sebagai Taimur Abdulwahab al-Abdaly, pria Timur Tengah yang beremigrasi ke Swedia pada tahun 1992 namun kebanyakan menetap di Inggris bersama istri dan dua anaknya.
Otoritas Swedia menyatakan, Abdulwahab mengenakan sabuk bom dan siap meledakkan kereta api atau toko swalayan ketika bahan peledak yang dibawanya meledak lebih awal. Pria berumur 28 tahun itu pun tewas. Dua orang lainnya terluka dalam insiden itu. Otoritas Swedia meyakini, Abdulwahab bermaksud menimbulkan korban jiwa yang besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perjuangan Stockholm merupakan awal era baru dalam jihad kami, ketika Eropa akan menjadi arena untuk perjuangan-perjuangan kami," demikian pesan berbahasa Arab yang diterjemahkan oleh Flashpoint Partners, organisasi di AS yang menelusuri publikasi kelompok-kelompok militan.
"Mereka yang bersikeras untuk tidak menuruti tuntutan kami harus mengharapkan serangan kami, yang akan menjangkau jantung Eropa," demikian bunyi pesan tersebut seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (14/12/2010).
Belum jelas apakah pesan itu terkait Abdulwahab. Namun badan-badan intelijen akan menyelidikinya.
Insiden pengeboman di Stockholm bermula ketika sebuah mobil yang mengangkut tabung-tabung gas meledak di area perbelanjaan di Stockholm. Beberapa menit kemudian, terjadi ledakan di dekat lokasi tersebut dan menewaskan si pelaku dan melukai dua orang.
"Dia mengenakan sabuk bom dan membawa ransel berisi bom," kata kepala penuntut Swedia Tomas Lindstrand kepada wartawan.
Abdulwahab datang ke Swedia pada tahun 1992 dan mendapatkan kewarganegaraan Swedia enam tahun kemudian. Dia menempuh studi di sebuah universitas di Kota Luton, Inggris selatan.
Polisi telah menggeledah sebuah rumah di Luton yang ditempati Abdulwahab bersama istri dan dua anaknya. Polisi juga menggeledah sebuah rumah di Kota Tranas, sekitar 200 kilometer barat daya Stockholm yang sering dikunjungi Abdulwahab secara berkala.
(ita/nrl)










































