"Seyogyanya tidak terlepas dari unsur kesehatan. Di dalam kesehatan soal pengaturan katering ini ada namanya surat keputusan menteri kesehatan soal jasa boga dan katering," kata Wakil Ketua Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Bidang Kesehatan Chairul Radjab saat ditemui di BPHI Madinah, Sabtu (11/12/2010).
Masalah katering haji selama bertahun-tahun ditangani oleh tim dari Kementerian Agama yang kurang menguasai kriteria dan standar higienitas katering. Selama ini tim kesehatan hanya dilibatkan dalam hal informasi dan data.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus katering basi menimpa jamaah haji di Madinah. Katering tersebut diproduksi oleh perusahaan Al Fatani, Al Haidery dan Makram.Β
Fatani tercatat sudah tiga kali menyajikan makanan basi. Terakhir meskipun sudah dikenai sanksi pemotongan order 25 persen Fatani mengulang katering basi. Sementara Al Haidery tercatat dua kali menyajikan makanan basi. Makram ketahuan satu kali menyajikan makanan basi.
Anehnya tiga perusahaan bermasalah tersebut memegang order besar dalam penyediaan katering haji. Berdasarkan data Daker Madinah, Makram mendapat jatah untuk menyediakan makanan bagi 35 ribu jamaah. Jatah Fatani dan Haidery sama yakni melayani 30 ribu jamaah.
Jumlah perusahaan katering yang ditunjuk untuk melayani jamaah Indonesia ada 10 katering. Selain tiga katering bermasalah tersebut, katering lainnya adalah Betawi atau Almazroi yang mendapat pesanan tertinggi yakni 37 ribu jamaah.
Sementara sisanya, Andaluz mendapat pesanan 26 ribu, Salal 11.500, Mukhsin 8 ribu, Munief 8 ribu, Hanan Samai 6 ribu dan Golden Fork 6 ribu.
Bila ditilik dari penampilan fisik dapur, perusahaan yang paling canggih, rapi dan bersih adalah Andaluz. Namun anehnya dibandingkan tiga katering bermasalah seperti Fatani, Haidery dan Makram, pesanan untuk Andaluz justru lebih sedikit.
(iy/ape)










































