"Dia di Afghanistan sejak 1985, dia di sana selama 6-7 tahun," kata mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) Farihin di Jakarta, Sabtu (11/12/2010).
Mustofa, lanjut Farihin, bahkan menjadi trainer di Afghanistan, selama peperangan dengan Uni Soviet. "Saya pernah dilatih dia selama 3 tahun di sana," tambah Farihin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena kemampuannya itu, lanjut Farihin, Mustofa yang juga pernah berkuliah di Fakultas Kedokteran Hewan UGM ini, menjadi pelatih di kamp di Mindanao, Filipina Selatan.
"Setelah di Afghanistan, dia ke Filipina dan menjadi pelatih. Azahari dan Noordin M Top mungkin pernah menjadi muridnya. Jadi kemampuan Mustofa jauh di atas dua orang itu," terang Farihin.
Selain memiliki kemampuan sebagai ideolog, Mustofa juga handal dalam memakai bahan peledak. Tidak heran di kelompoknya dia diangkat menjadi panglima perang.
"Dia pimpinan Askari, yang bertanggung jawab dalam pelatihan militer," tutur Farihin.
Namun Farihin pesimis kalau kemudian Mustofa disangka sebagai dalang dari perampokan ataupun perampokan di Aceh. "Kalau mengetahui mungkin saja, tapi kalau menyetujui saya tidak tahu. Hanya saja dia ini perannya sebagai orang yang memberi ilmu," tutupnya.
Abu Tholut ditangkap Densus 88 di di Kudus, Jawa Tengah. Ia ditangkap saat bersama sang istri. Dia pernah menjadi pengajar atau instruktur bahan peledak di Afghanistan dari tahun 1987 sampai 1992. Dia juga aktif di Mindanao, Filipina, dan pernah menjadi pemimpin camp di Filipina pada 1999-2000.
Abu Tholut juga pernah menjadi Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah di Poso (2000-2002), sebelum kemudian diserahkan kepada Nasir Abas, yang kini menjadi pengamat terorisme.
(ndr/ken)










































