"Saya tidak mau berkomentar soal yang mengatakan kalau saya tahu tentang hal itu," kata Dubes AS Scot Marciel di Pusat Kebudayaan AS @america, Pacific Place, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (10/12/2010).
Menurut dia, keterangan semacam itu tidaklah terbayangkan olehnya. Jika kemudian Kedubes AS sudah tahu akan ada aksi terorisme, seharusnya bom Marriott bisa dicegah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marciel menambahkan, tidak ada seorang pun staf diplomatik Kedubes AS yang tahu, kawat apa yang akan dibocorkan oleh WikiLeaks. Mereka juga memantau terus pemberitaan di dunia terkait WikiLeaks.
"Apa yang akan muncul, saya tidak tahu. Kalau sudah keluar, mungkin kita nanti sama-sama tahu," imbuh mantan wakil asisten Menlu AS Hillary Clinton ini.
Para diplomat AS di seluruh dunia memantau juga setiap perkembangan terkait WikiLeaks. Dia mengatakan WikiLeaks cukup menyita perhatian.
"Semua diplomat memikirkan hal tersebut. Ini memang menyusahkan kita sebagai diplomat," akunya.
WikiLeaks akan membongkar 3.059 kawat diplomatik dari Kedubes AS Jakarta dan 167 kawat diplomatik dari Konjen AS Surabaya. Ini adalah bagian kecil dari 251.287 kawat yang dibocorkan WikiLeaks dari seluruh kedubes AS di dunia dan juga Kemlu AS.
Sejauh ini WikiLeaks baru memberikan rekap data kawat dari Jakarta, tanpa menungkap isi dari setiap kawat. Salah satunya, diketahui 4 hari sebelum bom meledak di Hotel JW Marriott tanggal 17 Juli 2009, keluar kawat berkode PTER atau soal terorisme. Saat bom meledak keluar lagi sebuah kawat, dan diikuti dua kawat lain beberapa hari setelahnya. Muncul dugaan publik kalau Kedubes AS sudah tahu akan ada serangan teroris.
(fay/nrl)











































