"Professor Kerry Sieh yang pernah menjadi narasumber dalam pembuatan program dokumenter mengenai 'Tsunami Asia' di National Geographic, akan membuka hasil penelitiannya mengenai potensi gempa bumi di Siberut, Sumatera Barat. Banyak ahli yang mempercayai bahwa terjadi gempa besar setiap 200 tahun sekali di patahan tektonik Sumatera tersebut," ujar Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Erick Ridzky dalam siaran pers, Jumat (10/12/2010).
Sieh adalah pakar gempa bumi kenamaan dari Earth Observatory of Singapore (EOS). Selain itu, hadir Rektor UGM Prof Sudjarwadi dan pakar geologi asal UGM Prof Dwi Korita Karnawati. Juga petinggi-petinggi lembaga pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi pokok penanganan bencana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
kembali berbagai gunung berapi di Indonesia.
"Sebelumnya, Istana juga terlibat aktif mendukung pembangunan Pusat Riset Kegempabumian di Bandung. Pusat Riset Kegempabumian tersebut direncanakan segera memulai aktivitasnya pada awal tahun depan," tambah Erick.
Letusan Gunung Sinabung dan Merapi serta gempa dan tsunami Mentawai yang terjadi di tahun 2010 menjadi bukti bahwa Indonesia berada dalam situasi 'rawan bencana'. Bahkan, kondisi geologis Indonesia juga disinyalir turut memudahkan terjadinya banjir bandang, seperti yang terjadi di Wasior (Papua), Padang, dan Aceh, beberapa waktu lalu.
"Keunikan posisi geografis dan kondisi geologis Indonesia itu harus kita jadikan acuan untuk mengantisipasi risiko kebencanaan. Karena itu, kita perlu membicarakan konsep mitigasi bencana yang ada secara komprehensif. Sebab, ada dugaan kuat bahwa antara bencana tektonik, vulkanik, juga banjir bandang, memiliki kaitan dengan karakteristik geologis kita," tutupnya.
(ndr/nrl)










































