Sekitar pukul 19.30 WITA, Kamis (9/12/2010), mahasiswa pengunjuk rasa mulai membubarkan diri dari ruas Jl Urip Sumoharjo, Makassar. Praktis jalan utama kota Makassar yang sempat ditutup sejak pukul 13.00 WITA itu sudah bisa kembali dilalui oleh warga.
Namun sebelum bentrokan tersebut benar-benar usai, pengunjuk rasa yang mayoritas adalah mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu sempat melakukan aksi anarkis. Mereka merebut dan membakar satu sepeda motor milik warga yang melintas di lokasi bentrokan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data terakhir yang berhasil wartawan himpun, sebanyak 13 orang mahasiswa harus mendapat perawatan di RS Ibnu Sina akibat luka-luka terkena lemparan batu atau peluru karet. Mereka tercatat sebagai mahasiswa UMI, Universitas 45 dan Universitas Indonesia Timur.
Enam mahasiswa lainnya berhasil diamankan polisi saat bentrokan berlangsung. Sedangkan dari pihak kepolisian, empat anggotanya terluka dan kini masih dirawat di RS Bhayangkara dan RS Ibnu Sina.
Sekitar pukul 16.00 Wita, pimpinan kampus yang diwakili Pembantu Rektor III UMI, Ahmad Gani dan Pembantu Dekan III Teknik Industri, Sakkir Sabhara melakukan pertemuan dengan perwakilan polisi, yakni Wakapolrestabes, AKBP Endi Sutendi di tengah-tengah massa yang bertikai. Kedua pihak sepakat untuk saling menarik diri.
Namun, saat pertemuan berlangsung lemparan mahasiswa dan tembakan gas air mata dari polisi nyaris tidak berhenti, hingga bentrokan tetap berlanjut. "Saya menegaskan ke pihak kepolisian, apakah kita sudah tidak bisa bicara baik-baik, sehingga tembakan polisi sudah mengarah ke masjid kami," pungkas Sakkir.
Menurut perwakilan mahasiswa, Ilham yang ditemui detikcom, keributan antara mahasiswa dengan aparat bermula saat Koordinator Komisariat HMI UMI yang bernama Erik ditinju oleh seseorang di pintu masuk kantor gubernur. Kedatangan mahasiswa ke kantor gubernur untuk menanyakan dana bantuan sosial senilai milyaran rupiah yang tidak jelas penggunaannya.
(mna/lh)











































