Demikian anggota Dewan Pembina PD, Andi Mallarangeng, menanggapi keputusan adik Sultan Hamengkubuwono X memulangkan kartu anggota PD. Dia ditemui di sela acara Bali Democratic Forum, di Nusa Dua, Kamis (9/12/2010).
"Itu tidak perlu dikhawatirkan. Biasa saja ada perbedaan pandangan antar pribadi, apalagi dalam partai politik," ujar Mallarangeng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keduanya punya alasan sama dengan GBPH Prabukusumo yang menjabat sebagai Ketua DPD PD DIY, yaitu menolak pemisahan jabatan Gubernur DIY dari Sultan sebagaimana pemerintah usulkan dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta.
Mallarangeng mengaku sangat menghargai keputusan ketiganya mundur dari PD. Terlebih mereka merupakan kader utama yang banyak berperan dalam keunggulan PD dalam Pemilu 2009 di DIY.
Namun diyakininya mundurnya Prabu, Faraz dan Lulu tidak melemahkan PD di DIY. Sebaliknya menguatkan dukungan sebab masyarakat melihat PD konsisten memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat serta merumuskan bentuk pemerintahan modern yang lebih berkelanjutan di masa depan dengan tetap mengedepankan faktor budaya dan sejarah yang menjadi keistimewaan Yogyakarta.
"Sehingga kami yakin justru PD akan semakin mendapatkan simpati dari masyarakat Yogyakarta dan seluruh Indonesia," tegas Mallarangeng.
Lebih lanjut pria berkumis yang menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga itu menyatakan perbedaan pendapat merupakan sesuatu hal yang biasa dan mutlak terjadi dalam iklim demokrasi. Kondisi demikian juga berlangsung di Yogyakarta.
"Yogyakarta itu heterogen, pemikirannya beragam. Makanya tidak bisa pemikiran satu orang lantas diklaim sebagai pemikiran semua warga Yogyakarta," tutup alumni Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM tersebut.
(lh/fay)










































