Presiden Korsel: Indonesia Bisa Jadi Panutan Negara Lain

Bali Democracy Forum

Presiden Korsel: Indonesia Bisa Jadi Panutan Negara Lain

- detikNews
Kamis, 09 Des 2010 12:17 WIB
Nusa Dua - Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak memberikan pernyataan terkait demokrasi dan upaya memajukan perdamaian dan stabilitas saat menghadiri Bali Democracy Forum. Ia berpendapat, Indonesia yang merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini, bisa menjadi panutan bagi negara lain.

"Secara khusus saya ingin mengucapkan selamat bagi pembangunan demokrasi di Indonesia. Di mana dalam waktu 10 tahun Indonesia bisa membangun sistem demokrasi yang baik," ujar Myung-bak saat memberikan sambutannya di hadapan delegasi-delegasi dari 71 negara dan peninjau dalam Bali Democracy Forum III di Nusantara Room, The Westin, Nusa Dua, Bali, Kamis (9/12/2010).

Myung-bak mengatakan, kemampuan Indonesia untuk menerapkan sistem demokrasi dengan melihat latar belakangnya sebagai negara multikultural dan multiras dengan jumlah penduduknya yang banyak, adalah hal yang luar biasa. Dia menilai, Indonesia layak
menjadi panutan bagi negara lain, terutama yang masih merintis sistem demokrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya percaya Indonesia bisa menjadi panutan, bukan hanya untuk Korea tapi juga untuk negara lain. Indonesia menjadi contoh yang baik dalam membangun demokrasi di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono," tuturnya.

Bali Democracy Forum, menurut Myung-bak, muncul sebagai mekanisme yang signifikan untuk membangun sistem demkrasi dan memberikan peluang bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman terkait penerapan sistem demokrasi di negara masing-masing.

Myung-bak  melihat bahwa forum kali ini yang mengambil tema 'Demokrasi dan Upaya Memajukan Perdamaian dan Stabilitas' merupakan tema yang relevan. Dibutuhkan keterbukaan, keadilan, kerjasama yang baik dalam menciptakan sistem demokrasi yang tepat.

"Keterbukaan dalam demokrasi, demokrasi adalah sebuah ide politik terbuka. Demokrasi dapat mengatasi konflik sosial lewat kesepakatan, mendorong partisipasi masyarakat dan bisa mendorong stabilitas," jelas Myung-bak.

Dengan adanya demokrasi, negara-negara minoritas di dunia bisa menjadi mayoritas di masa depan. Kemudian dapat pula tercipta kerjasama yang damai antara negara-negara yang demokratis.

"Pakar-pakar menjelaskan negara yang demokratis memiliki cara kuat untuk menekan konflik. Saya percaya kemajuan demokrasi di negara Asia Pasifik sangat positif," ucapnya.

Myung menjelaskan, saat ini di Korea Selatan telah mencapai tahap di mana demokrasi berefek pada pembangunan ekonomi negara. Terpisahnya Semenanjung Korea memang semakin mengancam, dan seperti saat ini krisis Korea yang terjadi telah menjadi ancaman yang serius. Kendati ada konfrontasi di Semenanjung Korea, namun keberhasilan ekonomi Korea Selatan menjadi kebanggaan.

"Pembangunan ekonomi kami 38 kali lebih besar dari Korea Utara. Melalui pembangunan ekonomi, Korea telah membuka pintu untuk menjadi negara maju, dari negara penerima bantuan menjadi negara pedonor," jelasnya.

Myung-bak menambahkan, di era sekarang ini di mana semua serba cepat membuat pembangunan demokrasi menjadi cepat. Namun kompetisi tiada akhir dalam globalisasi dan disparitas antar negara juga menjadi kendala terciptanya demokrasi.

"Kita akan terus mencari upaya untuk mendukung terciptanya demokrasi yang baik. Kita harus bekerjasama dan berbagi tanggung jawab, karena ada kebutuhan untuk menjalin pendalaman yang lebih mendalam," ucapnya.

"Harapan kami, Bali Democracy Forum ini mampu melanjutkan upaya untuk menjadi forum yang baik dalam menciptakan demokrasi," tandas Myung-bak.
(nvc/aan)


Berita Terkait