Sikap jamaah tersebut misalnya terlihat saat pemulangan jamaah lewat Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah, Rabu (8/12/2010).
Seorang jamaah asal Bugis misalnya terpaksa membongkar ulang barang bawaannya karena kena sweeping petugas. Kakek yang membawa tiga tas besar itu tidak boleh masuk saat check in di bandara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga 20 menit lewat si kakek masih saja bingung menentukan apa yang akan dibawanya pulang. Setelah dibantu petugas si kakek akhirnya mau meninggalkan sandal japit, sabun, sarung lusuh serta piring dan gelas plastik.
"Maaf jamaah kita memang kadang sabun colek saja juga dibawa pulang," ungkap Duty Manager Garuda Madinah Bambang Suwito Adji.
Sementara Kepala Sektor Bandara AMAA Warih Setiawan kembali mengingatkan jamaah agar mematuhi aturan barang bawaan yang akan dibawa masuk ke kabin pesawat beratnya tidak lebih dari lima kilogram. Bila melebihi aturan barang terpaksa ditinggal di bandara alias menjadi barang tercecer (barcer).
Masalahnya banyak jamaah yang tetap membawa barang melebihi ketentuan dengan alasan untuk coba-coba. Sayangnya bila di-sweeping petugas, saat harus memilah barangnya jamaah terpaksa buru-buru sehingga justru barang berharga banyak yang dibuang.
"Dari barcer yang kami selamatkan masih banyak sekali barang berharga kadang ada uang, emas, kamera, handphone," kata Warih.
Padahal, kata Warih, sebelum masuk gate sudah diumumkan lewat pengeras suara agar barang berharga disimpan secara benar.
Barang jamaah yang ditinggal itu selanjutnya akan dikumpulkan di gudang milik Al Mazroi Cargo. Barcer itu kemudian akan disortir untuk dicari ada tidaknya barang-barang berharga milik jamaah.
Jika ditemukan barang berharga maka petugas akan meneliti apakah ada identitas dari barang berharga tersebut.
"Kalau ada identitas kita kirim ke Indonesia kalau tidak maka akan disumbangkan ke lembaga sosial," terang Wakil Kepala Daker Madinah bidang Perumahan dan Katering, Mucholi Djimun.
Sementara barang-barang lain yang tidak berharga akan disumbangkan kepadamasyarakat Indonesia yang tinggal di Jeddah.
(iy/rdf)











































