"Jika benar Mas Prabukusumo mundur dari PD, sebagai sahabat dan Ketum saya menyayangkan. Tetapi saya menghormati pilihan politiknya itu," tulis Anas dalam akun twitternya @anasurbaningrum, yang diposting Kamis (9/12/2010).
Sebagai rekan berdiskusi di Demokrat, Anas coba melihat sisi positif dari keputusan yang Prabu ambil. Anas mengatakan, dalam sebuah partai termasuk PD, kader diberikan kebebasan menentukan langkahnya sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anas mengaku cukup kenal dengan sosok Prabu. Anas berharap hubungan personal keduanya tidak akan terganggu dengan kemunduran ini.
"Saya yakin silaturrahim dan persahabatan akan tetap terjaga baik," harapnya.
Tak lupa, Anas juga mengucapkan terima kasih pada Prabu atas kerjasamanya selama di Demokrat. "Tentu saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Prabu atas kerja dan dedikasinya yang 5 tahun memimpin DPD PD DIY. Semoga Mas Prabu sukses selalu," imbuh Anas.
Prabu akan menyerahkan kartu tanda anggota sekaligus jabatan sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Demokrat DI Yogyakarta.
"Saya mundur sebagai ketua DPP PD DIY dan sebagai anggota Partai Demokrat. Saya tetap memegang teguh dan membela harga diri serta martabat ayah saya dan almarhum Pakulam VIII," ujar Gusti saat berpamitan dengan rekan-rekannya di Hotel Bifa, Jl Perintis Kemerdekaan, Yogyakarta, Rabu (08/12/2010).
Prabu mengaku sempat tersinggung juga dengan perkataan politisi Demokrat Ruhut Sitompul dan Amir Syamsuddin yang mengatakan di Yogya tidak akan bisa rakyat jelata menjadi gubernur. Hanya darah biru saja yang bisa menjadi gubernur.
" Ucapan itu menyakiti harga diri saya," akunya.
Prabu pun mengaku kecewa tidak diberitahu adanya pemanggilan sejumlah pengurus DPD DIY ke Cikeas. Padahal sebagai Ketua DPD, harusnya dia diberi tahu dan diajak.
"Saya mundur tidak mengajak siapa pun. Itu keinginan diri sendiri bahkan saya tidak mengajak anggota dewan, pengurus maupun simpatisan. Saya tidak akan kembali lagi," tegas dia
(lia/rdf)











































