"Bapak dan Istri saya Betawi, saya hidup di lingkungan Betawi. Tidak mungkin saya menghina diri saya sendiri," ujar Igo saat dihubungi detikcom, Rabu (8/12/2010).
Terkait dengan tuduhan Forum Kajian Budaya Betawi, Igo menyatakan dirinya tidak merasa telah mengatakan hal tersebut. Igo pun meminta agar rekaman acara diskusi yang diselenggarakan oleh pihak Meseum Fatahillah diputar ulang.
"Kalau toh saya mengatakan hal itu, itukan forum diskusi informal. Kenapa tidak segera diluruskan saya kalau dianggap salah. Kenapa dipendam lalu baru sekarang di munculkan," sesal politisi PKS ini.
Igo yang pernah berperan sebagai Fatahillah dalam film Fatahillah mengaku bila acara diskusi tersebut hanya bersifat informal. Ia pun hanya diundang melalui telepon oleh pihak panitia.
"Suasananya cuma diskusi biasa, kita duduk lesehan sambil minum teh. Jadi bukan acara resmi, kalau toh saya salah kenapa tidak segera diluruskan waktu itu, kenapa semua diam," keluhnya.
Anggota Komisi E DPRD DKI ini pun belum bisa memastikan apakah dirinya akan datang di Gedung Juang besok. "Belum tahu karena saya belum terima pemberitahuannya," imbuhnya.
Forum Kajian Budaya Betawi (FKBB) akan melakukan pengadilan publik terhadap Igo karena dianggap menghina etnis Betawi sehingga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Besok akan kita gelar pengadilan publik di Gedung Juang, pukul 12.00 WIB. Kita forum budaya Betawi akan minta yang bersangkutan klarifikasi atas pendapatnya yang menghina etnis Betawi," ujar Ketua FKBB Mathar Moehammad Kamal.
Menurut Mathar, Igo dianggap menghina etnis asli Jakarta ini beberapa waktu lalu. Kejadian bermula saat Igo diundang dalam sebuah diskusi berjudul "Fatahillah" di museum Fatahillah, Kawasan kota, Jakarta Pusat, 5 Desember lalu. Dalam diskusi yang dihadiri para budayawan dan tokoh Betawi tersebut, Igo dianggap mengeluarkan pernyataan yang tidak semestinya.
"Dia bilang kalau Betawi itu berhutang kepada Belanda, kalau tidak ada Belanda tidak akan ada Betawi," ujar Mathar menirukan perkataan Igo kala itu.
Penyataan Igo tersebut dianggap melukai para tokoh Betawi dan tidak sesuai dengan data sejarah yang mengatakan suku asli Jakarta ini telah lama ada, bahkan jauh sebelum bangsa Belanda dan Portugis datang ke Indonesia.
"Ada penelitian yang mengatakan kalau suku Betawi ada sejak 2.000 tahun sebelum Masehi. Pernyataan itu juga menafikan perjuangan yang dialkukan oleh para pahlawan dari Betawi seperti Si Pitung," tambah Mathar.
(her/rdf)











































