"Beras yang terkumpul satu ton, yang dimasak 3 kwintal. Selebihnya buat bayar panggung," kata Ketua Divisi Perempuan Omah Tani Ropiah sambil memasak, Selasa (7/12/10) atau 1 Muharam 1432 H.
Ropiah bercerita kepada detikcom, ayam kampung, beras dan sayur-sayuran yang mereka masak adalah hasil urunan dari ribuan anggota Omah Tani yang berada di sejumlah desa di Kecamatan Bandar. "Mereka mengumpulkan dengan kesadaran sendiri," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak akan berhenti berjuang," kata Ropiah.
Perjuangan yang paling Ropiah ingat adalah saat mempertahankan lahan bekas PT Tratak dari intimidasi preman. Siang di pertengahan 2007 itu, Ropiah bersama ratusan warga lainnya memalang jalan dengan pohon. Tujuannya, agar preman bayaran calon investor penadah Hak Guna Usaha (HGU) PT Tratak, yang sudah tidak beroperasi sejak 1988, itu tidak masuk.
Namun beruntung, bentrok tidak sampai terjadi. Nah, mulai siang mencekam itulah, para warga selalu awas dengan menjaga tanah yang sudah diambil alih pemerintah itu siang dan malam. Bahkan warga melakukan pengajian setiap malamnya agar perjuangannya berhasil dan di-ridhoi Yang Kuasa..
"Kami sudah tiga setengah tahun mengaji, salawatan Nariyah sejak kejadian itu, dan tak pernah berhenti sampai sekarang," kata Ropiah.
Pesta Rakyat
                                                                  Â
Lapangan yang becek akibat hujan Selasa (7/12/2010) sore itu, sudah dipenuhi oleh sekitar 3 ribu warga. Para penjual jajanan kampung juga ikut mengais rejeki dari hajatan tahunan itu. Warga mulai mengerumun ke depan panggung tatkala Kepala BPN Jateng Doddy Imron Cholid, anggota Komisi II DPR Budiman Sudjatmiko, dan Ketua Umum Parade Nusantara Sudir Santoso datang ke lokasi acara.
Pesta rakyat pun dimulai. Berbagai pertunjukan seni, mulai dari drama, tarian, sampai nyanyian oleh para waria kampung, mulai menghibur warga. Tak ayal, semua pengunjung mulai dari anak kecil sampai yang tua, terpingkal dibuatnya. Kegembiraan meluap dari kerumunan warga malam itu.
Kegembiraan pun bertambah, kala Doddy menegaskan kembali janjinya untuk meredistribusi 90 hektar lahan bekas PT Tratak itu kepada warga. "Insya Allah 2011 kita selesaikan dengan baik," kata Doddy yang disambut tepuk tangan para
warga.
Budiman dalam orasinya meminta warga tak lelah untuk terus berjuang mendapatkan haknya atas tanah, setelah dirampas oleh pemerintahan Orde Baru pasca 1965. Dia memberi contoh warga Cilacap yang telah mendapatkan 291 hektar lahan hasil redistribusi.
"Perjuangan rakyat Batang tidak akan sia-sia selama DPR waras, selama BPNÂ waras," kata Budiman.
Budiman, yang meski bukan berasal dari daerah pemilihan Batang, mengatakan, hak warga Batang untuk mendapatkan tanah juga perjuangannya sebagai wakil rakyat di DPR. Ia berjanji akan terus mendesak pemerintah mempercepat kasus-kasus dan konflik agraria dengan cepat.
"Saya sudah usulkan agar anggaran penyelesaian konflik ditingkatkan," kata Budiman yang separuh hidupnya berkecimpung di dunia organisasi tani itu.
Ketua Kolektif Omah Tani, Tahroni, mengatakan, saat ini masih ada 13 kasus pertanahan di Kabupaten Batang yang belum terselesaikan. Sebelumnya, dua kasus sudah diselesaikan di Desa Kambangan, Kecamatan Tulis dan Desa Kuripan, Kecamatan Subah. Masing-masing di dua lokasi itu telah diredistribusikan tanah kepada warga seluas 52 hektar dan 36 hektar.
Nah, lahan bekas PT Tratak di Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, belum masuk hitungan yang berhasil karena tanah belum resmi diredistribusi.
(lrn/nwk)











































