Gus Dur dan Ikeda, Berdialog untuk Perdamaian

Gus Dur dan Ikeda, Berdialog untuk Perdamaian

- detikNews
Selasa, 07 Des 2010 12:55 WIB
Gus Dur dan Ikeda, Berdialog untuk Perdamaian
Jakarta - Kecanggihan teknologi komunikasi dewasa ini terkadang membuat manusia justru 'terasing' dari lingkungan sekitarnya. Alat komunikasi yang sejatinya ingin 'mendekatkan yang jauh' kini malah cenderung 'menjauhkan yang dekat'.

Pemandangan dua orang, yang sedang asyik dengan ponsel masing-masing ketimbang saling berdialog saat menunggu makanan di restoran, misalnya, bukan lagi pemandangan yang aneh. Mereka seakan lebih menganggap penting komunikasi dengan rekannya di media sosial dan forum di dunia maya, ketimbang berdialog dengan orang di
hadapannya.

Di tengah fenomena tersebut,  KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Daisaku Ikeda, dua tokoh berbeda agama dan budaya, itu mengingatkan pentingnya sebuah dialog. Rangkuman dialog tersebut tertuang dalam buku yang berjudul 'Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertemuan antara manusia dan manusia melahirkan nilai-nilai baru. Sejarah baru dimulai dari dialog antarperadaban yang berbeda," kata Ikeda mengawali dialog di buku setebal 310 halaman tersebut.

Ikeda (82) adalah pemimpin spiritual Buddha Soka Gakkai dan Presiden Soka Gakkai International. Pria kelahiran Jepang, itu telah melahirkan berbagai lembaga pendidikan dan kebudayaan yang mempunyai misi perdamaian. 

Sementara Gus Dur, presiden ke-4 RI dan pejuang pluralisme, telah wafat pada Desember 2009 lalu.Buku yang diterbitkan Gramedia itu, berisi tanpa narasi. Semua dialog antara dua tokoh tersebut ditulis dengan kalimat kutipan langsung yang dikelompokkan ke dalam beberapa bab.

Dalam Bab I Perdamaian Merupakan Misi Agama, misalnya, terasa sekali dialog dua tokoh agama itu tersublimasi sampai pada titik spritual tertentu. Mereka berdialog sebagai manusia utuh yang melepaskan sekat-sekat agama.

Dalam dialog, Ikeda mengutip sebuah pepatah bijak "sesat di ujung jalan, balik ke pangkal jalan". Jika mengalami jalan buntu, kembalilah ke titik tolak.

"Apakah pangkal jalan dan titik tolak di mana manusia harus kembali sekarang? Itu adalah perdamaian. Semua agama harus bekerja sama menuju satu tujuan yakni perdamaian. Walaupun agamanya berbeda dan memiliki pendapat yang berbeda dalam hal ajaran, pasti dapat bekerja sama untuk kepentingan perdamaian bagi sesama manusia," kata Ikeda (halaman 4).

Dialog antara keduanya juga tidak kaku dengan hanya dibatasi tema toleransi dan perdamaian. Hal ini tampak dari pertanyaan Ikeda kepada Gus Dur: Apakah Bapak Wahid pernah memendam rasa kecewa dan kesal karena dikhianati?

"Terlalu sering dikhianati sehingga tidak merasakannya sebagai tantangan. Nanti akan ada hikmah dari tiap kali terjadinya pengkhianatan itu," kata Gus Dur (halaman 14).

Gus Dur juga bercerita tentang pengalaman saat tak lagi menjabat sebagai presiden, Juli 2001. Gus Dur mengatakan dia tidak menyesal atas kejadian itu.

"Satu-satunya hal yang menyedihkan bagi saya adalah kehilangan beberapa pita kaset musik Ludwig van Beethoven yang secara khusus telah saya koleksi," kata Gus Dur disambut tawa Ikeda.

Dialog pun lantas terus mengalir ke soal Beethoven. Keluasan perspektif keduanya membuat dialog menjadi hidup, bahkan pada tema-tema yang spesifik seperti Beethoven. Namun, tema spesifik itu tetap ditarik pada sebuah nilai universalitas kehidupan dan kemanusiaan.

"Beethoven telah menciptakan aransemen musik Simfoni No.5 dan Simfoni No.9 yang dikenal sebagai Ode to Joy, dan karya-karya lainnya. Itu menjadi pusaka tertinggi umat manusia yang diperoleh melalui perjuangan hidup menghadapi badai kesulitan yang menerjang. Kehidupan yang ditempuhnya memberikan dorongan semangat kepada saya," kata Ikeda (halaman 16).

Putri Gus Dur, Yenny Wahid, mengatakan, pertemuan fisik dan dialog yang jarang terjadi dan hanya diwakilkan lewat alat komunikasi dewasa ini, telah menyebabkan manusia mengalami kekeringan spritual. Kekekringan spiritual itulah yang menyebabkan orang yang mengaku beragama, tetapi melakukan kekerasan.

"Banyak yang mengaku beragama, tetapi sesungguhnya mereka tak ber-Tuhan," kata Yenny dalam peluncuran buku tersebut di Pusat Kebudayaan Soka Gakkai Indonesia, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (6/12/2010).

Rektor Univeritas Indonesia, Prof Dr Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri, mengatakan, hanya ada dua modus hubungan antarmanusia, yakni konflik dan harmoni. Dialog adalah kunci untuk menciptakan harmoni, sedangkan konflik hanya mengerdilkan manusia dan membuat kebudayaan jalan di tempat.

"Ikeda dan Gus Dur adalah dua tokoh yang punya reputasi dunia. Kedekatan dua tokoh tersebut terlihat dalam dialog keagamaan yang bebas penghakiman, dialog memang harus menuntut keterbukakan jiwa dan pikiran," kata Gumilar.

(lrn/nwk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads